Mengapa Karyawan Resign Saat Perusahaan Semakin Besar? Ini Sudut Pandang CEO!

by Jhonny Thio Doran  - Agustus 21, 2026

“Semakin besar sebuah perusahaan, semakin besar pula tantangan untuk memastikan orang orang di dalamnya tetap tumbuh bersama.”

Ada banyak pertanyaan yang kadang muncul dan menjadi bahan diskusi saya. Salah satunya adalah mengapa karyawan resign saat perusahaan bertumbuh semakin besar? Lantas, adakah yang salah dalam fenomena ini? Berikut hasil refleksi saya sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dengan yang kompleks!

Alasan Karyawan Resign dari Sudut Pandang Owner

Dari sudut pandang business owner, kondisi ini tidak selalu berarti perusahaan sedang bermasalah. Bisa jadi, perusahaan dan karyawan sedang memasuki fase yang berbeda. Setidaknya berikut alasan mengapa karyawan resign sebagaimana yang saya refleksikan:

1. Cara Kerja Berubah Seiring Perusahaan Bertumbuh

Apa Itu Scalling Bisnis Tanda Bisnis Sudah Siap Scaling
sc: Magnific

Alasan mengapa karyawan resign adalah dari cara kerja perusahaan yang perlahan berubah seiring pertumbuhannya. Saat bisnis masih kecil, pola kerja biasanya terasa lebih fleksibel. Komunikasi lebih langsung, keputusan bisa dibuat cepat, dan hubungan antara owner dengan tim masih cukup dekat.

Ketika perusahaan membesar, situasinya mulai berubah. SOP diterapkan, target lebih terukur, tanggung jawab semakin spesifik, dan struktur manajemen menjadi lebih jelas. Bagi sebagian karyawan, perubahan ini terasa positif. Namun, ada juga yang merasa kurang nyaman karena suasana kerja yang dulu lebih bebas mulai berubah menjadi lebih terstruktur.

Baca juga: 7 Tantangan Bisnis yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengelolanya

2. Tidak Semua Orang Cocok di Setiap Fase Bisnis

Setiap fase perusahaan membutuhkan tipe orang yang berbeda. Pada masa awal, bisnis biasanya membutuhkan orang yang fleksibel dan bersedia menangani berbagai pekerjaan sekaligus. Ketika perusahaan berkembang, kebutuhan mulai bergeser.

Kemampuan bekerja dengan sistem, mencapai target, memimpin tim, dan memiliki keahlian yang lebih spesifik menjadi semakin penting. Di sinilah ketidaksesuaian bisa terjadi. Karyawan yang sangat cocok ketika perusahaan masih kecil belum tentu merasa nyaman ketika organisasi tumbuh dan cara kerjanya berubah.

3. Ruang Gerak Karyawan Bisa Terasa Semakin Terbatas

ilustrasi loyalitas karyawan
sc: Magnific

Poin berikutnya bisa jadi karyawan yang resign karena merasa ruang geraknya semakin terbatas. Saat tim masih belum begitu besar. Seorang karyawan sering memiliki ruang yang lebih luas untuk mencoba banyak hal. Ide juga bisa disampaikan langsung dan keputusan relatif lebih cepat diambil.

Saat organisasi membesar, pembagian tugas menjadi lebih jelas. Ada prosedur, jenjang persetujuan, dan batas tanggung jawab yang perlu dijaga agar pekerjaan tidak saling tumpang tindih. Bagi sebagian orang, perubahan tersebut bisa terasa seperti kehilangan kebebasan. Padahal dari sisi perusahaan, struktur dibutuhkan agar bisnis bisa berkembang tanpa bergantung pada beberapa orang saja.

Baca juga: 7 Ciri Karyawan Red Flag yang Perlu Diperhatikan oleh Pemilik Bisnis

4. Hubungan dengan Owner dan Tim Ikut Berubah

Pada masa awal bisnis, owner mungkin masih mengenal hampir seluruh karyawan secara langsung. Komunikasi terasa personal karena jumlah orang di dalam perusahaan belum terlalu banyak. Ketika perusahaan semakin besar, hubungan tersebut secara alami berubah. Owner tidak lagi bisa terlibat dalam setiap percakapan atau mengetahui seluruh persoalan yang terjadi di setiap tim.

Menurut saya, di fase inilah komunikasi menjadi semakin penting. Meski struktur organisasi bertambah, karyawan tetap perlu memahami arah perusahaan dan merasa bahwa kontribusi mereka masih memiliki arti.

5. Menjadi Bahan Evaluasi bagi Perusahaan

3 1 1
sc: The Economic Times

Terakhir yang juga jadi bahan refleksi adalah resign tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Setiap orang memiliki tujuan karier, kebutuhan, dan rencana hidup yang berbeda. Namun, ketika cukup banyak karyawan pergi dalam periode yang berdekatan, owner perlu melihat polanya.

Bisa jadi ada persoalan terkait beban kerja, kepemimpinan, komunikasi, budaya, atau kesempatan untuk berkembang. Bagi saya, turnover bukan sekadar angka HR. Data tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat apakah pertumbuhan bisnis sudah diikuti oleh perkembangan organisasi yang sehat.

Baca juga: 7 Cara Saya Membangun Komunikasi Efektif dalam Bisnis dan Tim

Penutup

Semakin besar perusahaan, semakin banyak perubahan yang harus dihadapi oleh orang-orang di dalamnya. Pertumbuhan bukan hanya soal omzet, cabang, atau jumlah karyawan, tetapi juga tentang bagaimana organisasi ikut berkembang. Tidak semua orang akan terus berjalan bersama perusahaan sampai fase berikutnya. Itu merupakan bagian dari perjalanan bisnis yang terkadang tidak bisa dihindari.

“Pada akhirnya, perusahaan yang sehat bukan hanya mampu tumbuh secara angka. Bagi saya, perusahaan juga perlu membangun sistem, komunikasi, dan budaya yang membuat orang di dalamnya memahami ke mana bisnis sedang bergerak.”

You may be interested in

^ ^