7 Pelajaran Lari Marathon untuk Self Improvement di Usia 40 Tahun

Pelajaran Lari Marathon

Marathon mengajarkan saya bahwa garis finish bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih berharga adalah pribadi yang terbentuk selama perjalanan menuju ke sana

Sudah hampir tujuh tahun sejak terakhir kali saya menyelesaikan lari marathon di Berlin Marathon 2019. Setelah itu, saya tidak pernah lagi berlari sejauh 42 kilometer. Memasuki usia 40 tahun, saya pun mendapatkan challenge dari tim untuk menyelesaikan lari dengan jarak yang sama dengan usia di tahun ini.

Tantangan pun diterima, dan pada tanggal 28 Juni 2025 lalu bersama tim, kolega, dan sahabat-sahabat, kami menyelesaikan tantangan ‘Run With CEO 40K’ itu. Rasa bangga memang saya rasakan, karena stamina dan fisik saya ternyata masih prima. Namun, lebih dari itu, ada pelajaran dan refleksi secara mendalam untuk diri saya pribadi dan bisnis. Simak catatan kecilnya sampai tuntas, ya!

Apa Itu Lari Marathon?

Pelajaran Lari Marathon - Apa Itu Lari Marathon
sc: Dokumentasi Pribadi

Sebelum masuk ke refleksi saya, ada baiknya kita flashback sejenak tentang cabang lari jarak jauh ini. Lari marathon adalah nomor lari jarak jauh sejauh 42,195 kilometer yang dikenal sebagai salah satu tantangan paling besar dalam dunia olahraga.

Banyak orang menganggap marathon sebagai perlombaan siapa yang paling cepat. Padahal, bagi saya, marathon lebih banyak mengajarkan bagaimana menjaga ritme, mengelola tenaga, dan tetap melangkah ketika tubuh maupun pikiran mulai merasa lelah. Itulah yang membuat olahraga ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga: 7 Manfaat Olahraga untuk Hidup Lebih Sehat & Produktif

Pelajaran Lari 40K bagi Saya di Usia 40

Pelajaran Lari Marathon - Pelajaran Lari 40K
sc: Dokumentasi Pribadi

Semakin saya mengenal dunia lari, semakin saya percaya bahwa marathon bukan sekadar aktivitas olahraga. Marathon adalah perjalanan yang mengajarkan proses, kesabaran, dan keberanian untuk terus maju, bahkan ketika tujuan masih terasa sangat jauh. Nah, saya mencatat ada tujuh pelajaran lari 40 kilometer ini bagi diri pribadi yakni:

1. Lawan Terbesar adalah Pikiran Kita Sendiri

Saat berlari hampir lima jam, saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukan datang dari kaki yang mulai terasa berat atau napas yang semakin pendek. Yang paling sering muncul justru suara di dalam pikiran yang mengatakan, “Sudah cukup!” Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa banyak batas sebenarnya berasal dari diri sendiri. Ketika mampu mengelola pikiran, kita sering kali mampu melangkah lebih jauh daripada yang sebelumnya kita bayangkan.

2. Melangkah atau Berhenti Itu Pilihan yang Tipis

Marathon mengajarkan kita jika lanjut melangkah atau berhenti itu adalah pilihan yang tipis. Memasuki kilometer terakhir, saya tak lagi memikirkan seberapa jauh garis finish berada. Fokus saya hanya pada satu langkah kecil berikutnya. Dari sini juga ada pelajaran penting pula yakni tentang keberanian untuk mengambil langkah baru walaupun itu kecil dan perlahan, namun membuat perubahan dalam setiap apa yang kita jalankan.

3. Ketahanan Mental Lebih Utama

Lari jarak jauh memang memerlukan kondisi fisik yang sehat dan prima. Namun, di balik itu semua saya mempelajari bahwa ketahanan mental memiliki peranan tak kalah pentingnya. Contohnya, saat pikiran tetap tenang, tubuh biasanya mampu mengikuti. Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa dalam banyak situasi, ketahanan mental sering kali menjadi pembeda antara menyerah dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai, khususnya bagi seorang leader.

4. Tidak Semuanya Harus Berjalan Cepat

Pelajaran Lari Marathon - Tidak Semuanya Harus Berjalan Cepat
sc: Dokumentasi Pribadi

Marathon itu bukan melulu pada siapa cepat menuju garis finish. Di sini yang utama adalah ritme yang terjaga merupakan poin pentingnya. Jika Anda memaksakan diri di awal, energi kita pun akan cepat habis di tengah jalan. Kemudian, saya belajar bahwa memperlambat lambat bukan berarti mundur. Tapi itu cara terbaik menyelesaikan perjalanan. Bahkan, dalam bisnis dengan cara pelan tapi pasti kita bisa menyalip semua kompetitor kita.

Baca juga: Cara Meningkatkan Mindset Positif: 7 Langkah yang Bisa Anda Praktikkan Setiap Hari

5. Jangan Ragu untuk Memulai Kembali

Setelah menyelesaikan Berlin Marathon pada 2019, saya sempat berhenti cukup lama dari lari jarak jauh. Barulah masuk usia 40 tahun ini, seolah jadi pengingat untuk ada kesempatan untuk memulai kembali. Usia maupun jeda bukanlah alasan untuk berhenti bertumbuh. Selama masih memiliki kemauan, selalu ada ruang untuk mencoba tantangan berikutnya. Apalagi menghadapi realita saat ini yang berkembang dengan cepat dan dinamis, kita pun dituntut harus bisa beradaptasi dengan baik.

6. Konsisten Diri Menjadi Sebuah Eksistensi

Tidak mungkin saya mampu menyelesaikan lebih dari 42 kilometer hanya dengan  satu hari! Semua itu dibangun melalui latihan dan kebiasaan yang dilakukan jauh sebelumnya. Misalnya dengan rutin lari 5-10 kilometer untuk membentuk ketahanan yang unggul. Di sinilah, seperti yang saya tulis di catatan artikel sebelumnya kalau konsistensi itu penting untuk mencapai hal besar yang kita targetkan. Jika penasaran, tentang konsistensi Anda bisa membacanya dengan klik di sini!

7. Garis Finish Bukan Akhir, Tapi Awal Baru!

Pelajaran terakhir dari lari 40 kilometer bersama kemarin adalah, saya beranggapan bahwa garis finish bukan akhir dan capaian kemenangan segalanya. Justru di sinilah perjalanan kita ke depannya akan di mulai. Mau seperti apa kita atau bisnis kita ke depannya harus dipersiapkan dengan baik. Tantangan di depannya pun semakin beragam dan kita tak tahu pasti. Yang paling penting adalah seberapa siap kita menghadapi tantangan itu.

Baca juga: 7 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anda, Mulailah dari Hal Sederhana!

Refleksi Diri

Pelajaran Lari Marathon - Refleksi Diri
sc: Dokumentasi Pribadi

Bagi saya, menyelesaikan marathon di usia 40 bukan sekadar tentang menaklukkan jarak 42 kilometer. Yang jauh lebih berharga adalah pelajaran yang saya temukan di setiap langkahnya. Saya belajar bahwa keterbatasan sering kali bukan berasal dari kemampuan, melainkan dari keputusan untuk berhenti terlalu cepat.

Pengalaman ini juga mengubah cara saya melihat bisnis. Membangun perusahaan ternyata tidak jauh berbeda dengan menyelesaikan marathon. Keduanya membutuhkan visi yang jelas, konsistensi, ketahanan mental, dan keberanian untuk terus melangkah ketika tantangan mulai terasa berat.

Terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya buat semua yang sudah berpartisipasi dan berjuang bareng dari start sampai finish. Kalian luar biasa!