Tan Yu Yeh adalah pendiri MR.DIY Group, sebuah perusahaan ritel perlengkapan rumah tangga yang kini mudah Anda temui di berbagai negara. Pengusaha asal Malaysia berusia 53 tahun ini mendirikan MR.DIY pada 2005 dan menjalani perjalanan panjang dengan memegang banyak peran manajerial. Profil dari Tan Tu Yeh sangat menarik untuk dibahas.
Saat ini, Tan Yu Yeh menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif sekaligus Executive Vice Chairman MR.DIY Group. Di Indonesia, entitas bisnisnya PT Daya Intiguna Yasa Tbk, bersiap melantai di bursa melalui IPO dengan target dana hingga Rp4,7 triliun. Angka-angka ini besar, tetapi kisah di baliknya justru terasa dekat dan membumi. Di sanalah letak inspirasi yang ingin saya ceritakan kepada Anda.
Profil Tan Yu Yeh, Pendiri MR.DIY

Dalam keseharian bisnisnya, Tan Yu Yeh bekerja bersama CEO Ong Chu Jin Adrian untuk mengawal operasional dan merumuskan strategi jangka panjang. Ia bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di panggung utama. Sebaliknya, ia memilih fokus pada arah perusahaan dan memastikan setiap toko berjalan sesuai nilai awal yang dibangun.
Saya melihat titik penting saat MR.DIY resmi melantai di Bursa Malaysia pada Oktober 2020. IPO tersebut bukan hanya milestone finansial, tetapi juga validasi atas model bisnis yang dibangun perlahan. Tak heran, nama Tan Yu Yeh dan saudaranya kemudian masuk daftar orang terkaya versi Forbes. Meski begitu, pendekatannya tetap sama, sederhana dan konsisten.
Latar Belakang Tan Yu Yeh
Tan Yu Yeh adalah lulusan Universitas Malaya dengan gelar Fisika. Ketika membaca latar belakang ini, saya sempat berpikir, apa hubungannya fisika dengan ritel? Namun, justru di situlah jawabannya. Fisika mengajarkan ketelitian, logika, dan efisiensi. Nilai-nilai ini terasa nyata dalam cara MR.DIY mengelola ribuan toko.
Sebelum mendirikan MR.DIY, Tan Yu Yeh pernah bekerja sebagai teknisi di Komag USA Sdn. Bhd. dan juga sebagai pialang saham di Inter-Pacific Securities Sdn. Bhd. Pengalaman teknis dan finansial ini membentuk sudut pandangnya yang seimbang. Ia paham detail operasional, tetapi juga mengerti ritme pasar dan perilaku konsumen.
Baca Juga: Fakta MacKenzie Scott, Filantropis Dunia yang Memilih Memberi dalam Diam

Sejarah Berdirinya MR.DIY
Cerita MR.DIY dimulai pada Juli 2005, ketika Tan Yu Yeh membuka toko pertamanya di Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur, Malaysia. Lokasinya tampak sederhana, konsepnya pun juga tidak rumit. Ia hanya ingin menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga dalam satu tempat dengan harga terjangkau.
Seiring waktu, toko-toko baru bermunculan di pusat perbelanjaan strategis. Pada 2014, MR.DIY mulai berekspansi ke Brunei Darussalam. Lalu, pada 2018, lahir brand MRTOY dan MR DOLLAR untuk menjangkau segmen yang lebih luas. Setelah IPO pada 2020, konsep toko pun berkembang menjadi MR.DIY Express dan MR.DIY Plus, mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Konsep “Always Low Prices” yang Konsisten
Satu hal yang selalu saya ingat dari MR.DIY adalah konsep “Always Low Prices”. Bukan sekadar slogan, tetapi janji yang dijaga. Dengan lebih dari 17 ribu jenis produk, MR.DIY menyasar kebutuhan sehari-hari tanpa membuat konsumen merasa terbebani harga. Menurut saya, kekuatan konsep ini ada pada konsistensinya. Konsumen tidak datang karena promo sesaat, melainkan karena kepercayaan.
Ekspansi Global MR.DIY
Hingga kini, MR.DIY telah mengoperasikan lebih dari 4.000 toko di Asia dan Eropa. Malaysia menjadi pasar terbesar dengan lebih dari 1.300 toko. Indonesia berada di posisi kedua, disusul oleh Thailand, Filipina, dan India. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa konsep MR.DIY bersifat lintas budaya.
Saya melihat ekspansi ini bukan sekadar soal membuka toko sebanyak-banyaknya. MR.DIY tetap membawa DNA yang sama ke setiap negara. Kebutuhan rumah tangga bersifat universal dan sosok Tan Yu Yeh berhasil menerjemahkannya ke dalam format ritel yang relevan di berbagai pasar. Tak heran, MR.DIY begitu mudah diterima di masyarakat dari berbagai negara.
Baca Juga: Profil Alexander Grenz yang Konsisten Saya Perhatikan di Industri Asuransi

Terus Bertumbuh di Indonesia
Di Indonesia, MR.DIY sering disangka merek lokal. Mungkin karena harganya ramah dan produknya dekat dengan kebutuhan masyarakat. Hingga pertengahan 2025, MR.DIY Indonesia telah membuka lebih dari 1.100 toko dan menciptakan lebih dari 11.000 lapangan kerja. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah komitmen pada pemasok lokal. Lebih dari 40 persen tenaga kerja berasal dari luar Pulau Jawa dan produk lokal terus didorong masuk ke jaringan toko.
Kekayaan Tan Yu Yeh
Menurut Forbes, Tan Yu Yeh dan Tan Yu Wei termasuk jajaran orang terkaya di Malaysia pada 2025. Secara individu, kekayaan Tan Yu Yeh berada di kisaran US$1,5 miliar. Meski sempat mengalami fluktuasi, posisinya tetap kuat di dunia bisnis regional. Namun, bagi saya, angka ini hanyalah hasil akhir. Tan Yu Yeh sukses membangun kekayaan melalui keputusan jangka panjang, disiplin, dan pemahaman mendalam terhadap pasar, bukan lewat gebrakan instan.
Kepemilikan Saham dan Potensi Dana IPO
Menjelang IPO MR.DIY di Indonesia, Tan Yu Yeh melalui Azara Alpina akan melepas sekitar 2,2 miliar saham. Langkah ini menurunkan kepemilikannya menjadi kurang lebih 85 persen. Dari sini, potensi dana yang diraih mencapai lebih dari Rp4 triliun. Angka ini tentu menggiurkan, tetapi bagi saya, ini lebih mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fondasi bisnisnya.
Di sisi lain, PT Daya Intiguna Yasa Tbk juga berencana melepas sekitar 10 persen saham ke publik. IPO ini bukan sekadar ekspansi modal, melainkan langkah strategis untuk memperkuat posisi MR.DIY di pasar Indonesia yang sangat dinamis dan kompetitif. Melalui langkah ini, perusahaan ingin membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang sekaligus memperluas jangkauan bisnisnya.
Baca Juga: Profil Kuok Meng Ru: Anak Konglomerat yang Memilih Jalur Musik dan Teknologi

Penutup
Saat menelusuri kisah dan profil Tan Yu Yeh, saya belajar bahwa kesuksesan besar tidak selalu lahir dari langkah yang berisik. MR.DIY tumbuh dari ide sederhana, dijalankan dengan konsisten, dan berkembang perlahan hingga mendunia. Kisah ini mengingatkan saya dan Anda bahwa proses seringkali lebih penting daripada kecepatan. Selama arah jelas dan langkah dijaga, hasil akan menemukan jalannya sendiri.

