Profil Frank Wang: Founder DJI yang Inpsiratif dalam Membangun Bisnis dari Nol

Profil Frank Wang

Perusahaan besar sering kali tidak lahir dari tempat yang besar, tetapi dari keberanian seseorang untuk memulai ketika orang lain masih ragu.

Ada banyak founder yang saya kagumi karena berhasil mengubah sebuah ide sederhana menjadi bisnis yang berdampak besar. Salah satunya adalah Frank Wang, pendiri DJI. Hal membuat saya tertarik bukan hanya karena ia berhasil membawa DJI menjadi pemimpin pasar drone dunia, tetapi juga karena perjalanan panjangnya membangun perusahaan tersebut dari kondisi yang sangat sederhana. Seperti apa perjalanannya? Simak profil Frank Wang berikut!

Siapa Frank Wang?

Profil Frank Wang - Siapa Frank Wang
sc: sUAS News

Frank Wang atau Wang Tao adalah pendiri sekaligus CEO DJI (Da-Jiang Innovations), perusahaan teknologi asal Tiongkok yang dikenal sebagai produsen drone terbesar di dunia. Ketertarikannya terhadap dunia penerbangan sudah muncul sejak kecil ketika ia gemar memainkan helikopter remote control.

Rasa penasaran itu kemudian membawanya menempuh pendidikan di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) dengan fokus pada teknik elektronik.Saat masih menjadi mahasiswa, Frank Wang mengembangkan proyek akhir berupa sistem kendali helikopter tanpa awak.

Meskipun proyek tersebut tidak memperoleh nilai yang memuaskan, ia justru melihat potensi besar di balik teknologi yang sedang dikembangkannya. Keyakinan tersebut membuatnya mendirikan DJI pada tahun 2006 dari sebuah kamar asrama bersama tim kecil dan sumber daya yang sangat terbatas.

Kini, DJI berkembang menjadi perusahaan drone terbesar di dunia yang produknya digunakan di berbagai sektor, mulai dari fotografi, perfilman, konstruksi, pertanian, pemetaan, hingga operasi penyelamatan.

Baca juga: Membangun Bisnis dari Kamar Kost Itu Menantang!

Perjalanannya Membangun Brand DJI

Profil Frank Wang - Perjalanannya Membangun Brand DJI
sc: Kachun To

Perjalanan Frank Wang membangun DJI tidak pernah berjalan mulus. Sebelum dikenal sebagai pemimpin industri drone, ia harus melewati berbagai tantangan yang menguji keyakinannya terhadap visi yang sedang dibangun.

Pada 2005, ketika masih menjadi mahasiswa di HKUST, Frank Wang mengembangkan proyek akhir berupa sistem kendali helikopter tanpa awak. Meski hanya memperoleh nilai C, ia tidak menganggap proyek tersebut sebagai sebuah kegagalan. Sebaliknya, ia melihat peluang untuk mengembangkan teknologi yang saat itu masih sangat terbatas.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2006, Frank Wang mendirikan DJI dari kamar asramanya. Bersama beberapa rekannya, ia mulai merancang flight controller untuk drone dengan modal yang minim. Di masa awal tersebut, mereka harus melakukan hampir semua hal sendiri, mulai dari riset, pengembangan produk, pengujian, hingga mencari pelanggan.

Alih-alih terburu-buru mengejar penjualan, Frank Wang memilih fokus menyempurnakan kualitas produknya. Ia percaya bahwa drone tidak akan diterima pasar jika belum stabil, aman, dan mudah digunakan. Filosofi tersebut membuat DJI berkembang lebih lambat dibanding beberapa kompetitor, tetapi memiliki fondasi teknologi yang jauh lebih kuat.

Keputusan itu mulai membuahkan hasil ketika DJI menghadirkan berbagai inovasi yang membuat drone semakin mudah dioperasikan oleh pengguna umum. Perlahan, nama DJI mulai dikenal di pasar internasional dan menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan paling pesat di dunia.

Baca juga: Mengapa Brand Identity Penting? Pelajaran Saya dalam Membangun JETE!

Tahun Penuh Kesuksesan Sekaligus Konflik

Profil Frank Wang - Tahun Penuh Kesuksesan Sekaligus Konflik
sc: Mashable

Tahun 2013 menjadi salah satu momen paling penting dalam perjalanan Frank Wang. Pada tahun inilah DJI meluncurkan DJI Phantom, drone siap terbang (ready-to-fly) yang mengubah cara masyarakat melihat teknologi drone.

Produk tersebut membuat drone tidak lagi identik dengan kalangan profesional, tetapi juga dapat digunakan oleh fotografer, videografer, kreator konten, hingga masyarakat umum. Phantom menjadi titik balik yang membawa DJI menuju pasar global.

Namun di balik kesuksesan tersebut, DJI juga menghadapi konflik internal. Perbedaan pandangan antara Frank Wang dan Colin Guinn, yang saat itu memimpin pengembangan pasar DJI di Amerika Utara, semakin sulit disatukan.

Frank Wang ingin mempertahankan fokus perusahaan pada inovasi produk dan kualitas teknologi, sementara Guinn lebih agresif mendorong ekspansi bisnis dan berbagai kerja sama strategis. Perbedaan visi tersebut akhirnya membuat keduanya berpisah. Perselisihan bahkan berlanjut hingga ranah hukum sebelum akhirnya diselesaikan.

Bagi saya, bagian ini menjadi pengingat bahwa ketika sebuah perusahaan mulai bertumbuh besar, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar persoalan produk atau modal, tetapi juga bagaimana menjaga kesamaan visi di dalam tim.

Baca juga:  7 Tantangan Bisnis yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengelolanya

Pelajaran Bisnis yang Saya Pelajari dari Frank Wang

Profil Frank Wang - Pelajaran Bisnis
sc: DJI

Saya merasa, apa yang dilakukan oleh Frank sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan hampir 20 tahun lalu saat mulai merintis bisnis ini. Yakni sama-sama berangkat dari keterbatasan dan dari sebuah kamar kost ide untuk memulai sebuah inovasi masa depan muncul. Dari dirinya, saya memiliki insight menarik di antaranya:

1. Berani Mulai Meski dalam Keterbatasan

Frank Wang memulai DJI dari sebuah kamar asrama ketika masih menjadi mahasiswa. Ia tidak menunggu memiliki kantor besar atau modal yang melimpah. Justru ia memilih memulai dari apa yang dimiliki saat itu. Saya percaya, banyak bisnis gagal berkembang bukan karena idenya kurang baik, tetapi karena terlalu lama menunggu kondisi yang dianggap ideal.

2. Kualitas Produk adalah Hal Penting

Di tengah persaingan teknologi yang sangat cepat, Frank Wang memilih menyempurnakan produknya sebelum mengejar pertumbuhan. Keputusan itu memang membuat proses berkembang terasa lebih lambat, tetapi menghasilkan kepercayaan pelanggan yang jauh lebih kuat. Menurut saya, kualitas selalu menjadi investasi jangka panjang bagi sebuah brand.

3. Jangan Takut untuk Jadi Besar dan Pertahankan Visi

Perbedaan pendapat dengan rekan kerja adalah hal yang wajar dalam sebuah perusahaan. Namun perjalanan Frank Wang menunjukkan bahwa seorang founder juga harus berani mempertahankan visi yang diyakininya ketika percaya itulah arah terbaik bagi perusahaan. Tidak semua keputusan akan membuat semua orang setuju, tetapi seorang pemimpin tetap harus mampu menentukan arah yang jelas.

4. Selalu Berinovasi Memberikan Hasil Nyata

Bagi saya, sebagai pebisnis di sektor teknologi melihat DJI tidak hanya menciptakan teknologi yang canggih, tetapi juga membuat drone menjadi lebih mudah digunakan oleh banyak orang. Saya belajar bahwa inovasi terbaik bukanlah yang paling rumit, melainkan yang benar-benar memudahkan kehidupan penggunanya. Ketika sebuah produk mampu menyelesaikan masalah pelanggan, di situlah nilai sebuah bisnis akan terus bertumbuh.

5. Konsistensi Jangka Panjang dalam Membangun Brand

Pelajaran terakhir yang bisa saya dapat dari Frank Wang ini adalah tentang bagaimana dirinya menjaga konsistensi brand. Semua itu tidak dibangun dalam 1-2 tahun, namun proses yang panjang. Mulai dari proses panjang, penyempurnaan produk yang berulang, dan konsistensi menjaga kualitas hingga akhirnya dipercaya di seluruh dunia. Hal ini mengingatkan saya bahwa membangun brand jauh lebih mirip maraton daripada sprint. Siapa yang bertahan bukan yang bergerak paling cepat, tetapi yang paling konsisten menjalankan komitmennya.

Baca juga: Catatan Kecil tentang Apa Itu Konsistensi: Pengalaman Saya Menjaga Ritme Kerja Tim

Refleksi

Profil Frank Wang - Refleksi
sc: Medium

Jika ada satu hal yang paling menginspirasi saya dari Frank Wang bukan hanya keberhasilannya membangun DJI, tetapi bagaimana semuanya berawal dari sebuah kamar asrama. Kisah itu terasa dekat dengan perjalanan saya ketika membangun JETE dari kamar kost dengan segala keterbatasan yang ada. Kami tentu berada di industri yang berbeda, tetapi sama-sama memulai dari ruang kecil dengan keyakinan bahwa sesuatu yang besar selalu diawali oleh langkah pertama.

Bukan tempat kita memulai yang menentukan seberapa jauh kita melangkah, melainkan keberanian untuk terus belajar, terus memperbaiki, dan tidak berhenti percaya pada visi yang sedang kita bangun.