Membangun Bisnis dari Kamar Kost Itu Menantang!

JTD - Membangun Bisnis dari Kamar Kost Itu Menantang

Hari ini, orang mungkin mengenal Doran Group dan JETE sebagai brand dan unit bisnis di bidang ekosistem dan IoT yang berkembang pesat di tanah air. Namun, tak sedikit juga orang tahu bagaimana perjalanan dan perkembangan bisnis ini dari awal.

Tahun 2008  saya tinggal di sebuah kamar kost di Surabaya yang bisa dibilang tidak begitu luas. Hari-hari saya lalui dan berlalu begitu saja, hingga suatu hari saya mulai berpikir dan bertanya pada diri sendiri

“Sudahkan saya benar memilih jalan yang ditempuh?”

Saat itu, saya hanya punya satu keinginan sederhana, hidup mandiri. Bayangan memiliki perusahaan dan membangun brand tentu saja masih jauh di awang-awang. Ini tidak lebih dari usaha untuk bertahan dan belajar hidup dari sesuatu yang saya bangun sendiri.

Di situ saya memulainya dengan menjual casing handphone dan jam tangan. Kamar kost kini tidak lagi sebagai tempat tidur dan istirahat, tapi juga merencanakan ide, strategi, sekaligus jadi tempat menyimpan barang jualan.

Saat pagi hari tiba, saya mulai menyiapkan barang-barang jualan dan mengemasnya. Saat matahari mulai beranjak naik, saya mulai menawarkan barang tersebut ke toko-toko. Tak jarang, itu saya lakukan hingga malam hari. Sampai di kost, apakah saya bisa tidur? Tentu tidak! Justru saya berpikir keras bagaimana menjual produk ini sampai habis.

Di fase ini, saya belajar satu hal yang sederhana tapi cukup penting: tidak semua harus sempurna, tapi semuanya harus dijalankan dengan jujur. Salah kirim barang, saya perbaiki. Barang tidak laku, saya cari jalan lain. Saya pun mulai mencoba jualan di KasKus pada saat itu. Maklum, tahun 2008 belum banyak marketplace seperti sekarang. Dari sini, satu per satu pembeli mulai muncul dan tertarik dengan produk yang saya jual.

Saya melihat ini sebagai peluang baru. Pada saat itu, KasKus merupakan salah satu platform yang tepat bagi pebisnis dalam memasarkan dan menjual produk mereka. Apalagi tidak perlu ongkos yang besar. Meski begitu, ini adalah opsi bagi saya dan cara berjualan konvensional tetap dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih. Selama ada jalan lain yang menguntungkan, mengapa tidak kita coba, kan?

Tidak ada tim untuk berbagi beban. Semua keputusan, sekecil apa pun, harus saya ambil sendiri. Salah atau benar, dampaknya langsung terasa. Di situlah saya belajar bertanggung jawab pada pilihan saya sendiri.

Dan, cerita fase selanjutnya ada di postingan saya berikutnya: Orang Pertama yang Saya Percaya dalam Membangun Bisnis