Orang Pertama yang Saya Percaya dalam Membangun Bisnis

JTD - Orang Pertama yang Saya Percaya dalam Membangun Bisnis

Tulisan ini merupakan sambungan dari cerita sebelumnya tentang bagaimana saya mulai membangun bisnis dari sebuah kamar kost. Buat kamu yang belum baca ceritanya, bisa klik di sini ya!

Oke, kita mulai ceritanya…

Ada masa ketika saya mengira membangun bisnis hanya soal kuat sendirian. Semakin mandiri, semakin tangguh. Pikir saya saat itu!  Setahun pertama, semua dilakukan sendiri. Mulai dari menjual barang, mengirim pesanan, menghitung uang, dan strategi besok hari.  Dari situlah, saya memahami jika mandiri itu penting, tapi bertahan sendirian itu melelahkan.

Pengalaman tersebut saya alami tahun 2009 silam. Saat kondisi tenaga dan pikiran mulai terkuras habis, ada satu orang yang melihat proses bisnis saya dari dekat. Dia bukan orang terkenal, bukan pebisnis andal yang banyak uang, apalagi investor. Dia tak lain adalah teman satu kost saya yang bernama Dicky.

Tanpa proses rekrutmen, tanpa CV, dan tidak ada pembagian jabatan. Kita mencoba berjalan bersama dengan satu visi sederhana. Bagaimana usaha tetap berjalan dengan baik saat kondisi belum stabil, pendapatan atau untung bisnis juga belum tentu berapa. Saya juga belum yakni sepenuhnya ini akan menjadi apa nantinya, seperti gambling rasanya!

Meski begitu, saya coba melihat dari sudut pandang lain yakni belajar arti kepercayaan dan membangun relasi bisnis. Sejak saat itu, saya berhenti jadi one man show. Tidak langsung lebih mudah, tapi terasa lebih ringan.

Strategi yang kami jalankan berdua bukanlah strategi yang rumit. Nama brand JETE atau Doran Group tentu masih belum lahir. Yang kami lakukan hanya bertahan hari demi hari. Dari proses yang serba sederhana itu, tanpa sadar kami memegang beberapa prinsip dasar:

  1. Cashflow lebih penting daripada mimpi besar: kami belum menginjak soal ekspansi atau scale-up. Fokusnya simpel, yakni bagaimana barang jualan harus berputar dan uang kembali. Margin kecil? No problem, asal bisa bikin bisnis hidup!
  2. Semua orang mengerjakan semuanya: awalnya memang tidak ada spesialisasi. Hari ini jualan, besok packing, lusa antar barang. Bukan karena ideal, tapi karena itu satu-satunya cara untuk bertahan.
  3. Pasar adalah guru paling jujur: kami datang ke toko-toko, mendengar penolakan dan komplain. Tidak dibantah, tidak dibela. Didengar. Dari situlah arah bisnis perlahan dibentuk.
  4. Tekan Ego, hela napas lebih panjang: tidak semuanya harus tumbuh cepat, besar atau terlihat keren. Yang penting sederhana: bisnis ini masih hidup besok.
  5. Bertahan lebih lama dari yang lain: banyak yang memulai, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan. Kami mungkin tidak paling pintar, tapi memilih untuk tidak menyerah terlalu cepat.

Dalam menjalani fase ini, saya anggap sebagai pondasi untuk membangun mental bertahan. Hal tersebut pula yang jadi titik dasar pegangan saya, saat tim mulai berkembang, sistem mulai dibangun, hingga menjadi lebih besar. Dari yang awalnya cuma dua orang, kami menambah satu orang lagi. Lalu satu lagi secara pelan-pelan.

Dan kalau hari ini saya melihat ke belakang, saya sadar: semua ini tidak dimulai dari ide besar atau modal besar. Tapi dari satu hal sederhana, orang pertama yang percaya, saat segalanya masih belum jelas.

Perjalanan penuh lika-liku dan cerita fase selanjutnya akan lebih seru lagi, kamu bisa lihat postingan saya berikutnya: Ketika Kamar Kost Tidak Lagi Cukup, Ruko Jadi Solusi Backup!