Terima kasih sudah membaca cerita saya kedua tentang orang yang pertama percaya akan bisnis ini. Sekarang, saya akan melanjutkan bagaimana barang jualan menumpuk di kost, dan mengharuskan pindah ke tempat baru. Oh, iya jika kamu belum sempat membaca cerita sebelumnya, bisa klik di sini!
Baiklah, saya akan bercerita….siapkan kopi, teh, atau camilan sambil membacanya juga boleh!
Tahun 2011 adalah fase ketika saya mulai benar-benar memahami arti pertumbuhan dalam bisnis. Ini bukan soal apa yang kita dapatkan saat sekolah atau di buku, tapi versi nyatanya, real. Yakni, ketika ruang yang dulu terasa cukup untuk menyimpan barang jualan tiba-tiba terasa sempit.
Awalnya semua masih berjalan seperti biasa saja. Pesanan masuk, barang keluar, aktivitas padat tapi masih terkendali. Sampai suatu hari saya melihat sekeliling kamar kost dan sadar, tempat ini sudah berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan gudang, kantor, sekaligus pusat operasional. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sempitnya?
Solusi pertama yang saya ambil sangat sederhana, menyewa satu kamar tambahan lagi. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya hampir satu lantai kos dipenuhi stok barang. Ruang tengah pun berubah fungsi. Setiap hari dari pagi sampai sore, tempat itu menjadi ruang kerja kami, mengatur pesanan, packing, mencatat stok, menyiapkan pengiriman.
Di titik itu batas antara hidup dan kerja mulai hilang. Gudang, kantor, dan tempat istirahat bercampur dalam satu ruang yang sama. Bahkan, saya merasa tidak enak sebenarnya dengan pemilik kost waktu itu.
Secara bisnis, semuanya masih berjalan. Cashflow tetap berputar. Dari luar, tidak ada masalah. Tapi di dalam kepala saya mulai muncul pertanyaan yang tidak bisa diabaikan:
“Apakah bisnis ini akan terus seperti ini?”
“Apakah ini hanya akan jadi usaha yang sekadar cukup hidup?”
Jawabannya bukan dari laporan penjualan. Jawabannya datang dari realitas sehari-hari. Barang makin menumpuk. Proses makin rumit, kesalahan kecil mulai berdampak besar. Saya mulai menyadari bahwa masalahnya bukan lagi soal kerja keras, tapi soal kapasitas.
Di momen itulah saya mengerti satu hal penting, kalau ingin bisnis berkembang, saya harus memilih tempat usaha yang lebih besar.
Keputusan pindah dari kos ke ruko sebenarnya bukan keputusan besar secara angka. Tapi secara mental, itu langkah besar. Itu adalah momen ketika saya mengakui pada diri sendiri bahwa ini bukan lagi usaha sambilan.
Kami akhirnya pindah ke ruko sederhana. Bukan untuk terlihat besar. Tapi supaya kami bisa bekerja dengan lebih serius dan leluasa.
Tempat Kerja Berubah, Pola Pikir Juga Berubah
Menariknya, begitu ruang kerja berubah, pola pikir kami ikut berubah. Di tempat baru itu ritme kerja mulai terasa lebih jelas. Proses yang dulu spontan mulai kami rapikan. Tugas yang dulu bercampur mulai kami pisahkan. Kami belum punya sistem yang sempurna, tapi untuk pertama kalinya kami mulai berpikir tentang strategi, bukan hanya bertahan.
Di fase itu, Doran Group belum besar, belum rapi, dan belum dikenal luas. Tapi perjalanan ini akhirnya punya ruang yang memang dirancang untuk tumbuh.
Kalau saya melihat ke belakang hari ini, saya sadar bahwa titik pindah dari kos ke ruko bukan sekadar perpindahan lokasi. Itu adalah titik perubahan cara berpikir. Titik ketika saya berhenti melihat bisnis sebagai aktivitas, dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang harus dibangun dengan kesadaran penuh.
Dan dari fase itu saya belajar satu pelajaran yang terus saya pegang sampai sekarang:
Bertumbuh selalu menuntut keberanian meninggalkan cara lama, bahkan ketika cara lama itulah yang dulu membuat kita bertahan.
Penasaran, apa yang kami lakukan di tempat baru ini? kamu bisa lihat postingan saya berikutnya: Hari Ketika Saya Memutuskan Bikin Brand Sendiri, JETE!

