Sebelumnya, saya telah bercerita tentang empat prinsip utama yang saya pegang teguh saat membangun dan menjalankan bisnis. Sudah membacanya bukan? Jika belum, klik di sini untuk lebih tahu detailnya dan itu bersambung pada cerita saya kali ini!
Kita akan flashback ke belakang sekitar 5-6 tahun lalu, saat semua terjadi di tengah badai ketidakpastian…
Setelah melewati fase perubahan cepat di tahun-tahun sebelumnya, saya sempat bilang ke diri sendiri, “Sepertinya kita sudah siap menghadapi apa pun.” Waktu itu rasanya semua sudah terpetakan. Risiko ada, tapi terasa terukur. Ternyata saya terlalu cepat menyimpulkan.
Memasuki 2019 ke 2020, situasinya berubah total. Pandemi datang secara tiba-tiba melumpuhkan tidak hanya kesehatan, tapi juga perekonomian. Ketidakpastian sudah pasti ada di depan mata. Tidak ada yang benar-benar tahu harus bagaimana. Saya ingat pernah duduk diam beberapa menit dan berpikir:
“Oke… sekarang kita jalan pakai apa kalau petanya saja tidak ada?”
Di fase itu, prinsip speed & integrity yang selalu saya pegang terasa diuji habis-habisan. Gerak cepat bisa jadi salah langkah. Tapi kalau menunggu terlalu lama, semuanya bisa berhenti. Saya sampai bilang ke tim, “Kita mungkin tidak punya jawaban terbaik. Tapi kita tetap harus ambil keputusan meski mungkin terbilang sulit!”
Pertanyaan saya pun berubah. Bukan lagi, “Gimana caranya tumbuh lebih cepat?” melainkan, “Gimana caranya kita tetap berdiri dan semua orang tetap aman?” Diskusi jadi lebih jujur, lebih realistis. Banyak malam panjang yang isinya bukan strategi ekspansi, tapi hitung ulang kemungkinan terburuk.
Lalu di tengah situasi itu, kami justru mengambil keputusan yang bikin beberapa orang mungkin meragukan tindakan yang saya jalankan. Ya, saya dan tim memberanikan diri untuk membuka official store pertama Doran Gadget di Tunjungan Plaza 3, Surabaya. Termasuk official store pertama JETE di WTC, Surabaya. Bisa kamu bayangkan bukan, membuka dua gerai sekaligus di saat ketidakpastian?
Ada yang tanya, “Serius buka toko sekarang?” Saya cuma jawab, “Justru karena sekarang.”
Buat saya, retail itu bukan cuma soal jualan tapi retail itu kehadiran! Kalau produk kami kurang bagus, orang langsung tahu. Kalau layanan kami kurang, dampaknya langsung terasa. Transparansi seperti itu memang bikin deg-degan, tapi di situlah kepercayaan dibangun.
Di masa krisis, saya belajar satu hal sederhana: orang tidak butuh janji besar. Mereka butuh bukti bahwa kita tetap ada. Keputusan buka toko itu juga seperti pertanyaan balik ke diri saya sendiri, “Kamu benar-benar percaya sama nilai yang kamu pegang, atau cuma percaya saat situasi enak?”
Pengalaman itu pelan-pelan mengubah cara saya memimpin di Doran Grup. Saya tidak lagi merasa pemimpin harus selalu punya jawaban. Kadang tim cuma butuh melihat bahwa ada seseorang di depan yang berani bilang, “Oke, ini keputusan kita. Kita jalan bareng.” Dari situ saya paham satu hal penting yang paling saya ingat sampai sekarang:
Kepemimpinan bukan soal terdengar paling yakin. Kepemimpinan itu soal tetap hadir, tetap jujur, dan tetap berdiri bahkan ketika semua orang sama-sama belum tahu arah pasti…
Oke, lalu bagaimana ujung dari cerita ini? Simak di postingan berikutnya ya: Catatan Refleksi Perjalanan JETE & Doran Group: Ini Bukan Akhir, Tapi Permulaan!

