7 Prinsip Stoikisme dalam Bisnis, Belajar dari Brand Besar Dunia

Stoikisme dalam Bisnis

Perusahaan yang tangguh dibangun oleh pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya sebelum mengendalikan bisnisnya.

Banyak pemimpin menghabiskan energi untuk mencemaskan respons pasar, gerakan kompetitor, dan hasil yang belum pasti. Padahal, tidak semua hal dalam bisnis dapat dikendalikan, sebaik apa pun strategi yang sudah dibuat.

Saya melihat bahwa stoikisme menawarkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih sibuk mengendalikan hasil, pemimpin diarahkan untuk memperbaiki keputusan, respons, dan tindakan yang berada dalam kendalinya, seperti yang dapat kita pelajari dari sejumlah brand besar dunia. Yuk, simak catatan kecil saya di tulisan kali ini!

Manfaat Stoikisme bagi Pimpinan Perusahaan dan Bisnis

sc: Compile by Canva

Ada beberapa manfaat stoikisme dalam bisnis, terutama bagi pimpinan perusaaah. Hal yang paling utama, kita bisa membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang tidak bisa dikendalikan. Kita tidak dapat memastikan semua strategi akan berhasil, tetapi kita dapat mengendalikan kualitas keputusan, cara tim bekerja, pelayanan kepada pelanggan, dan respons ketika muncul masalah.

Selain itu, dengan prinsip stoik juga membantu pemimpin menjaga emosi agar tidak mengambil alih keputusan. Saat target tidak tercapai, pemimpin tidak langsung panik, marah, atau mencari orang untuk disalahkan. Ia menerima fakta yang terjadi, melihat penyebabnya dengan jernih, lalu menentukan tindakan yang masih bisa dilakukan.

Dalam bertindak, stoik mengajarkan seseorang untuk mengambil keputusan berdasarkan nilai dan bukan ambisi semata. Setiap keputusan bisnis tidak hanya dinilai dari keuntungan, tetapi juga dari integritas, tanggung jawab, keberanian, dan kebijaksanaan. Bagi saya, inilah fondasi penting untuk membangun perusahaan yang kuat dalam jangka panjang.

Baca juga: Memahami Apa Itu Stoikisme dan Kapan Harus Menerapkannya

Belajar Stoikisme dari Brand Besar Dunia

Profil Bill Gates
sc: Borse Online

Dari apa yang saya baca dari berbagai artikel dan buku tentang stoikisme. Setidaknya ada beberapa perusahaan besar yang sukses dengan menerapkan filosofi tersebut. Di antaranya seperti Microsoft, Berkshire Hathaway, Toyota, hingga Amazon. Berikut beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

1. Belajar Growth Mindset dari Budaya Microsoft

Pertama, dalam stoik kita diajarkan tentang sikap penerimaan dan menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas. Pemimpin yang merasa selalu paling benar akan sulit menerima masukan dan lebih mudah terjebak pada keputusan yang keliru. Sebaliknya, pemimpin yang rendah hati akan lebih siap mendengar, belajar, dan memperbaiki diri.

Microsoft menunjukkan hal tersebut melalui budaya growth mindset. Perusahaan mendorong orang-orang di dalamnya untuk terus belajar, menerima masukan, dan melihat kesalahan sebagai kesempatan berkembang. Bagi saya, penerapan stoiknya terletak pada keberanian mengendalikan ego dan menerima bahwa kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

Baca juga: 7 Buku Stoikisme yang Menginspirasi Saya dalam Menghadapi Tantangan

2. Bangun Standar Tinggi Layaknya Berkshire Hathaway

Selanjutnya, stoik mengajarkan kepada kita bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan yang dipilihnya. Dalam bisnis, pemimpin perlu berada di sekitar orang-orang yang berani berkata jujur, memiliki integritas, dan tidak hanya menyampaikan hal yang ingin didengar.

Warren Buffett dikenal menekankan pentingnya berada di lingkungan orang-orang yang memiliki karakter lebih baik. Prinsip stoiknya terletak pada kesadaran bahwa kita tidak dapat mengendalikan semua orang, tetapi kita dapat memilih dengan siapa kita bekerja dan nilai apa yang ingin dibangun dalam perusahaan.

3. Tetap Fokus dan Jaga Waktu Penting Anda seperti Warren Buffet

Bagi seorang stoik, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga karena tidak dapat dikembalikan. Karena itu, perhatian tidak boleh dihabiskan untuk hal yang berada di luar prioritas atau tidak membawa dampak nyata.

Untuk hal ini, saya juga belajar dari Warren Buffet yang mampu menjaga waktunya untuk membaca, berpikir, dan mengambil keputusan dengan tenang. Pemimpin perlu berani menolak rapat yang tidak penting, peluang yang tidak sesuai arah perusahaan, dan aktivitas yang hanya membuat sibuk tanpa memberikan hasil.

4. Kunci Sukses Amazon, Terus Berinovasi!

profil jeff bezos
sc: FOX11

Satu hal yang perlu diingat adalah, stoikisme sebenarnya tidak mengajarkan kita untuk mempertahankan sesuatu hanya karena sudah lama dilakukan. Seorang pemimpin perlu menerima kenyataan bahwa kondisi berubah dan cara lama belum tentu masih relevan.

Di sini, saya teringat dengan prinsip Amazon yakni ‘Invent and Simplify’. Dengan prinsip tersebut perusahaan besar ini mendorong tim mereka untuk terus mencari cara baru dan menyederhanakan proses. Sikap stoiknya terlihat pada keberanian melepaskan kebiasaan yang tidak lagi efektif, lalu fokus pada solusi yang masih bisa diperbaiki dan dikendalikan.

Baca juga: Profil Jeff Bezos: Pendiri Amazon yang Mengubah Cara Berbelanja di Era Digital

5. Tanamkan Prinsip Ownership dan Strategi yang Tidak Rumit

Stoikisme menekankan bahwa kita bertanggung jawab penuh atas tindakan kita sendiri. Dalam bisnis, pemimpin tidak dapat mengendalikan seluruh hasil, tetapi ia tetap bertanggung jawab terhadap kualitas strategi, kejelasan arah, dan cara tim menjalankan tugas.

Lagi-lagi, saya belajar juga dengan Amazon dengan prinsip kepemilikan dan tentang hasil. Intinya begini, pemimpin itu tidak hanya diminta membuat rencana, tetapi juga memastikan rencana tersebut dijalankan dengan baik. Penerapan stoiknya adalah berhenti mencari alasan, menerima konsekuensi keputusan, dan fokus pada tindakan berikutnya yang paling penting.

6. Jadikan Kegagalan Jadi Motivasi ala Toyota

Ketika menjalankan bisnis, kegagalan tentu saja tidak bisa hindari dan itu akan selalu ada dalam setiap perjalanan. Namun, menariknya adalah sikap stoik juga mengajarkan untuk menerima kegagalan dengan pikiran sehat dan bukan emosi sesaat. Setelah itu, pemimpin perlu melihat apa yang dapat dipelajari dan diperbaiki.

Jika kita mau belajar tentang ini, saya melihat dari bagaimana Toyota berusaha bangkit dengan filosofi Kaizennya atau perbaikan secara berkelanjutan. Masalah yang ada selanjutnya dianalisis agar tidak terjadi lagi. Di sini, nilai stoikny aykani menerima hasi apa adanya dan tidak larut dalam penyesalan. Justru hal itu jadi landasan untuk tindakan lebih baik.

7. Gunakan Sumber Daya Anda Secara Bijaksana

Terakhir, stoikisme mengajarkan tentang kesederhanaan dan pengendalian diri yang kuat. Dalam bisnis, hal ini berarti tidak mengukur keberhasilan hanya dari kemewahan, besarnya kantor, jumlah tim, atau banyaknya proyek yang dijalankan.

Kita ambil contoh saja, Amazon menerapkan prinsip frugality yakni bagaimana seorang pimpinan bisnis mendorong kreativitas mereka dengan sumber daya terbatas. Dengan kata lain, pada nilai stoiknya kita perlu bijaksana dalam menggunakan sumber daya untuk memberikan nilai lebih bagi perusahaan maupun konsumen.

Baca juga: Sandwich Leadership: Seni Menjaga Target Tetap Jalan & Tim Tetap Bertumbuh

Refleksi

sc: Dokumentasi Pribadi

Dari berbagai brand besar tersebut, saya melihat bahwa stoikisme bukan hanya teori tentang ketenangan semata. Lebih dari itu, filosofi tersebut bisa diterapkan dalam keseharian kita sebagai seorang pimpinan perusahaan atau pemilik bisnis. Seperti bagaimana cara pemimpin berpikir, memilih prioritas, menghadapi kegagalan, menggunakan sumber daya, hingga pelajaran tentang mengambil tanggung jawab.

Pada akhirnya, kita memang tidak dapat mengendalikan seluruh hasil dalam bisnis. Namun, kita selalu dapat mengendalikan cara merespons, kualitas keputusan, sikap terhadap tim, dan tindakan yang dilakukan setelah menghadapi masalah.

Bagi saya, pemimpin stoik bukanlah pemimpin yang tidak memiliki emosi, melainkan pemimpin yang tidak membiarkan emosi mengendalikan arah perusahaan.