Sandwich Leadership: Seni Menjaga Target Tetap Jalan & Tim Tetap Bertumbuh

Apa Itu Sandwich Leadership

Semakin besar tanggung jawab yang dipegang, semakin sering seorang leader berada di tengah berbagai ekspektasi. Tantangannya bukan menghindari tekanan, tetapi mengelolanya menjadi arah yang jelas bagi semua pihak.

Saat kita berbicara tentang kepemimpinan, banyak orang membayangkan seorang leader sebagai sosok yang memiliki wewenang lebih besar dalam mengambil keputusan. Namun dari pengalaman saya membangun bisnis dan memimpin tim, realitasnya sering kali tidak sesederhana itu.

Ada banyak situasi di mana seorang leader justru berada di posisi yang cukup menantang, menerima target dan ekspektasi dari atas, sekaligus memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi tim di bawahnya.

Fenomena ini sering disebut sebagai sandwich leadership. Istilah yang cukup sederhana, tetapi mampu menggambarkan posisi seorang pemimpin yang berada di tengah dua tekanan yang sama-sama penting. Berikut catatan kecil dan refleksi dari saya terkait fenomena tersebut.

Apa Itu Sandwich Leadership?

Apa Itu Extra Mile
sc: Pexels (Tara Winstead)

Sandwich leadership adalah kondisi ketika seorang pemimpin berada di antara dua kepentingan yang harus dijaga secara bersamaan. Dari atas, terdapat target bisnis, strategi perusahaan, dan berbagai ekspektasi yang perlu diwujudkan. Sementara dari bawah, ada tim yang membutuhkan arahan, dukungan, sumber daya, dan lingkungan kerja yang sehat untuk mencapai tujuan tersebut.

Karena berada di posisi tengah, seorang leader sering menjadi penghubung antara visi perusahaan dan realitas yang terjadi di lapangan. Tidak jarang kedua sisi memiliki perspektif yang berbeda. Manajemen ingin hasil yang optimal, sementara tim menghadapi berbagai tantangan operasional yang mungkin tidak selalu terlihat dari atas.

Menurut saya, di sinilah esensi kepemimpinan sebenarnya terlihat. Peran seorang leader bukan hanya menerima tekanan dari dua arah, tetapi mampu menerjemahkan ekspektasi menjadi tindakan yang realistis dan menjaga agar semua pihak tetap bergerak menuju tujuan yang sama.

Baca juga: 7 Buku Leadership yang Bisa Mengubah Cara Anda Memimpin

Mengapa Sandwich Leadership Muncul?

Apa Itu Integritas - Pengaruh Integritas dalam Bekerja
sc: Pexels (Brett Jordan)

Bagi saya, sandwich leadership muncul secara natural ketika organisasi mulai bertumbuh dan struktur kerja menjadi lebih kompleks. Semakin besar perusahaan, semakin banyak pula lapisan komunikasi dan koordinasi yang harus dijaga.

Di satu sisi, perusahaan membutuhkan target yang jelas agar dapat terus berkembang. Di sisi lain, tim membutuhkan dukungan agar mampu menjalankan target tersebut secara efektif. Ketika kedua kebutuhan ini bertemu, posisi leader menjadi sangat penting sebagai penghubung yang menjaga keseimbangan.

Fenomena ini juga sering muncul karena adanya perbedaan sudut pandang. Manajemen biasanya melihat organisasi dari perspektif strategi dan pertumbuhan bisnis. Sementara tim lebih dekat dengan proses operasional sehari-hari, tantangan teknis, dan kapasitas kerja yang tersedia. Ketika kedua perspektif tersebut tidak selaras, leader sering kali berada di tengah untuk menjembatani komunikasi dan ekspektasi yang ada.

Selain itu, perubahan yang terjadi begitu cepat saat ini juga membuat fenomena ini semakin terasa. Target dapat berubah dalam waktu singkat, prioritas bisnis dapat bergeser, dan kebutuhan pasar terus berkembang. Semua itu membuat peran leader menjadi semakin kompleks dibanding sebelumnya.

Baca juga: Teori Johari Window: Kunci untuk Mengenal Diri Lebih Dalam

Cara Mengatasi Fenomena Ini?

Motivasi Diri Sendiri
sc: Pressmaster

Sandwich leadership terkadang mustahil tidak ada dalam perusahaan. Apalagi jika semakin berkembang. Ada banyak yang harus dilakukan. Pada intinya adalah, tinggal bagaimana kita mengatasinya, alih-alih lari menghindarinya. Dari sini, saya melakukan beberapa pendekatan antara lain:

1. Pahami Tujuan Besar di Balik Target Perusahaan

Pertama adalah dengan memahami alasan di balik setiap target yang diberikan. Ketika memahami konteks bisnis secara menyeluruh, akan lebih mudah menjelaskan tujuan tersebut kepada tim dan membangun kesamaan arah. Target yang dipahami dengan baik biasanya akan lebih mudah diterima dibanding target yang hanya diteruskan tanpa penjelasan yang jelas.

2. Jadilah Jembatan Komunikasi bagi Tim Anda

Kedua, ada baiknya Anda menjadi penjembatan komunikasi bagi tim. Terkadang salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika leader hanya berperan sebagai penyampai pesan dari atas ke bawah. Padahal, peran yang lebih penting adalah menerjemahkan strategi menjadi langkah yang realistis dan dapat dijalankan oleh tim. Di saat yang sama, leader juga perlu menyampaikan kondisi nyata yang dihadapi tim kepada manajemen agar keputusan yang diambil tetap relevan dengan situasi di lapangan.

3. Berani Mengelola Ekspektasi

Ketiga, Anda juga harus bisa dan berani mengelola ekspektasi. Tidak semua target atau permintaan harus diterima begitu saja tanpa diskusi. Ada kalanya seorang leader perlu memberikan masukan berdasarkan kondisi yang ada agar ekspektasi yang dibangun tetap realistis. Bagi saya, kepemimpinan bukan hanya tentang menjalankan instruksi, tetapi juga tentang memberikan perspektif yang membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih baik.

4. Jaga Energi dan Motivasi Tim

Keempat, jagalah energi dan motivasi dalam tim Anda. Tekanan yang datang dari atas sering kali berpotensi diteruskan kepada tim. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi semangat dan produktivitas kerja. Karena itu, saya percaya bahwa salah satu tugas penting seorang leader adalah menjaga ritme kerja tetap sehat. Tim tetap perlu ditantang untuk berkembang, tetapi dalam batas yang memungkinkan

5. Berfokuslah pada Solusi, Bukan Tekanannya!

Terakhir,  selalu untuk fokus pada solusi bukan tekanan yang muncul. Ingat, tekanan itu akan terus muncul dan jadi bagian dunia bisnis. Nah, di sinilah kualitas seorang leader tidak diukur dari seberapa besar tekanan yang diterima, melainkan dari bagaimana ia merespons tekanan tersebut. Semakin fokus pada solusi dan langkah konkret yang dapat dilakukan, semakin mudah pula bagi tim dan organisasi untuk bergerak maju bersama.

Baca juga: 7 Cara Menjadi Leader yang Baik dan Menginspirasi Tim

Apakah Ini Baik atau Buruk Bagi Perusahaan?

CEO JETE - Fortune Indonesia 40 Under 40
sc: Fortune Indonesia

Lantas, apakah fenomena sandwich leadership ini baik atau buruk bagi perusahaan? Di sini saya melihat jika ini bukanlah sesuatu yang bisa langsung dikategorikan sebagai baik atau buruk. Fenomena tersebut akan selalu ada dalam organisasi yang sedang bertumbuh karena setiap level memiliki tanggung jawab, perspektif, dan ekspektasi yang berbeda.

Dari sisi positifnya, dapat membantu perusahaan bergerak lebih efektif ketika seorang leader mampu menyelaraskan ekspektasi dari atas dengan kemampuan tim di bawahnya. Komunikasi menjadi lebih jelas, keputusan lebih realistis, dan tujuan perusahaan dapat dijalankan tanpa mengabaikan kondisi nyata yang dihadapi tim.

Namun jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan masalah. Karena itu, yang terpenting bukanlah menghindari sandwich leadership, melainkan membekali para leader dengan kemampuan komunikasi, empati, dan pengambilan keputusan yang baik.

Bagi saya, perusahaan yang sehat bukanlah perusahaan yang bebas dari tekanan, tetapi perusahaan yang memiliki pemimpin yang mampu mengubah tekanan menjadi arah dan energi positif bagi tim.