7 Ciri Karyawan Red Flag yang Perlu Diperhatikan oleh Pemilik Bisnis

ciri karyawan red flag

Satu karyawan mungkin tidak bisa menghancurkan perusahaan. Tetapi satu perilaku buruk yang terus dibiarkan bisa mengubah seluruh tim.

Bagi business owner, menghadapi karyawan dengan perilaku red flag sering kali menjadi dilema. Terlalu cepat mengambil keputusan bisa membuat kita kehilangan orang yang sebenarnya masih bisa berkembang. Namun terlalu lama membiarkannya juga dapat membuat masalah menyebar ke dalam tim.

Dari pengalaman membangun bisnis, saya melihat bahwa tantangannya bukan sekadar mengenali siapa yang bermasalah, tetapi memahami pola perilakunya dan menentukan respons yang tepat. Sebab, cara kita menghadapi satu orang juga akan menunjukkan budaya seperti apa yang sedang kita bangun.

Dampak Karyawan Red Flag bagi Perusahaan

Manajemen Stress
sc: freepik

Satu karyawan mungkin terlihat seperti masalah kecil. Tetapi dalam organisasi, perilaku sangat mudah menular. Karyawan yang terbiasa mengeluh, menghindari tanggung jawab, atau menyalahkan orang lain dapat memengaruhi rekan satu tim. Lama-kelamaan, standar kerja ikut turun karena muncul persepsi bahwa perilaku tersebut bisa ditoleransi.

Dampaknya bisa terlihat dalam bentuk produktivitas yang menurun, konflik antartim, komunikasi yang tidak sehat, sampai beban kerja yang tidak seimbang. Bahkan, ketika perilaku tersebut terlihat oleh pelanggan, vendor, atau mitra bisnis, reputasi perusahaan juga bisa ikut terdampak. Bagi saya, bagian paling berbahaya bukan satu kesalahan yang dilakukan karyawan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kesalahan yang sama berubah menjadi pola.

Baca juga: 7 Pendekatan untuk Mencegah Lingkungan Kerja Toxic di Tempat Anda

Apa Saja Ciri Karyawan Red Flag?

JTD - Cara Mengatasi Lingkungan Kerja Toxic
sc: Pexels (Vitaly Gariev)

Berikut beberapa ciri karyawan bermasalah yang sebaiknya Anda perhatikan di lingkungan kerja perusahaan:

1. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang merespons kesalahan tersebut. Karyawan yang selalu memiliki alasan, menunjuk orang lain sebagai penyebab, dan sulit mengakui bagian dari masalah perlu diperhatikan. Bukan karena mereka tidak boleh salah, tetapi karena bisnis membutuhkan orang yang mau belajar dari kesalahan. Bagi saya, accountability jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat sempurna.

2. Memberi Kritik Lebih Ketimbang Solusi

Kritik sebenarnya sehat untuk perusahaan. Saya justru senang ketika ada orang yang berani mengatakan bahwa sesuatu tidak berjalan dengan baik. Yang menjadi red flag adalah ketika kritik hanya berhenti pada keluhan.  Setiap keputusan dianggap salah, tetapi tidak pernah ada keinginan untuk ikut mencari jalan keluar. Perusahaan membutuhkan orang yang berani berkata, “Ini tidak bekerja, dan saya punya alternatifnya.

3. Kerap Menciptakan Konflik

Gosip, membicarakan rekan kerja di belakang, memperbesar masalah kecil, atau sengaja menciptakan kubu merupakan perilaku yang kelihatannya sepele tetapi bisa merusak kepercayaan dalam tim.  Saya percaya budaya perusahaan dibangun dari interaksi kecil setiap hari. Ketika kepercayaan mulai hilang, kolaborasi pun menjadi jauh lebih sulit.

4. Menghindar dari Tanggung Jawab

Deadline terlewat, pekerjaan tidak selesai, lalu muncul berbagai alasan. Jika terjadi sesekali, tentu masih manusiawi. Tetapi jika pola tersebut terus berulang dan selalu ada alasan untuk menghindari tanggung jawab, business owner perlu mulai melihatnya sebagai persoalan perilaku, bukan sekadar persoalan performa.

5. Sulit Menerima Feedback

Saya tidak mengharapkan setiap orang langsung menerima semua masukan dengan senang hati. Feedback memang terkadang tidak nyaman. Tetapi ada perbedaan antara tidak nyaman dengan feedback dan menolak berkembang karena feedback. Karyawan yang selalu defensif, merasa dirinya paling benar, atau tidak pernah mau mengevaluasi diri akan lebih sulit berkembang.

6. Tidak Mau Beradaptasi

Bisnis berubah. Target berubah. Teknologi berubah. Cara pelanggan berpikir juga berubah. Karena itu, kemampuan belajar menjadi salah satu kualitas yang penting. Karyawan yang terus menolak perubahan tanpa alasan yang konstruktif berpotensi menjadi hambatan ketika organisasi sedang bertumbuh.

7. Tidak Berintegritas terhadap Pekerjaan

Ini mungkin salah satu tanda yang paling menarik. Ada orang yang terlihat sangat produktif ketika atasan berada di dekatnya, tetapi performanya berubah ketika tidak ada yang mengawasi. Bagi saya, integritas justru terlihat ketika tidak ada yang sedang melihat. Perusahaan membutuhkan orang yang tetap memiliki standar kerja meskipun tidak sedang mendapatkan perhatian.

Baca juga: Gen Z Leadership: Cara Menghadapi Generasi Baru di Dunia Kerja

Bagaimana Cara Mengatasi Karyawan Tipe Ini?

Pengertian Scaling Bisnis
sc: vadimguzhva_Getty Images

Setelah mengetahui ciri karyawan dengan tanda-tanda di atas, lantas apakah sebagai pemilik bisnis kita diam saja? Tentu tidak, dan saya memiliki beberapa tips yang sebenarnya bisa dilakukan di antaranya adalah:

1. Jangan Langsung Melabeli Mereka

Saya belajar untuk tidak terlalu cepat melabeli seseorang sebagai “karyawan bermasalah”. Perilaku buruk bisa saja muncul karena banyak faktor, ketidakjelasan target, komunikasi yang buruk, masalah dengan atasan, kurangnya kemampuan, atau memang masalah sikap. Karena itu, langkah pertama adalah mencari tahu penyebabnya.

2. Ajaklah Bicara Secara Personal

Percakapan empat mata sering kali memberikan informasi yang tidak akan muncul dalam rapat. Tanyakan apa yang sedang menjadi kendala, bagaimana mereka melihat pekerjaannya, dan apa yang membuat performanya berubah. One-on-one dapat menjadi ruang untuk menemukan masalah sebelum menjadi lebih besar.

3. Sampaikan Ekspektasi Perusahaan dengan Jelas

Setelah memahami masalahnya, jangan berhenti pada percakapan. Karyawan perlu tahu perilaku apa yang harus diperbaiki, hasil seperti apa yang diharapkan, dan kapan perubahan tersebut perlu terlihat. Ekspektasi yang jelas membuat evaluasi menjadi lebih objektif.

4. Beri Kesempatan untuk Berubah

Tidak semua red flag harus berakhir dengan perpisahan. Kalau seseorang masih memiliki kemauan belajar, saya justru melihat masalah sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Berikan arahan, pendampingan, dan ruang untuk membuktikan perubahan. Namun, kesempatan juga perlu memiliki batas. Jika perusahaan sudah memberikan dukungan tetapi pola yang sama terus berulang, business owner perlu berani mengambil keputusan.

5. Lakukan Evaluasi pada Diri Sendiri

Sebelum menunjuk karyawan sebagai sumber masalah, saya juga perlu bertanya: apakah ada sesuatu dari sistem kepemimpinan yang ikut menciptakan perilaku tersebut? Apakah targetnya jelas? Apakah komunikasi terbuka? Apakah feedback diberikan secara konsisten? Apakah orang-orang di dalam tim merasa didengar? Karyawan memang memiliki tanggung jawab terhadap perilakunya. Tetapi pemimpin juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tempat perilaku itu tumbuh.

Baca juga: Sandwich Leadership: Seni Menjaga Target Tetap Jalan & Tim Tetap Bertumbuh

Refleksi

Ekspansi Bisnis - Penutup
sc: Diplomat Sukses, Jhonny Thio Doran

Setelah saya mempelajari apa saja ciri karyawan red flag ini, saya semakin paham jika mengelola sumber daya manusia bukan saja mencari talenta yang kompeten. Lebih dari itu, kita harus membangun lingkungan sehat yang bisa bikin talenta terbaik tersebut tumbuh dan berkembang.  Oleh karena itu, ketika menemukan perilaku red flag, saya memilih melihatnya sebagai sinyal untuk memahami masalah lebih dalam sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, bisnis tidak akan pernah benar-benar bebas dari masalah manusia. Yang bisa kita bangun adalah budaya yang mampu mengenali masalah, membicarakannya dengan terbuka, dan mengambil tindakan ketika memang diperlukan. Dari situlah peran seorang business owner sebenarnya diuji.