Selama membangun JETE dan Doran Gadget, saya menyadari bahwa cara kita memperkenalkan produk sama pentingnya dengan kualitas produk itu sendiri. Karena itu, storytelling dalam bisnis menjadi salah satu pendekatan yang menurut saya perlu dipahami oleh para pengusaha, khususnya pelaku UMKM.
Dalam kesempatan berbagi di Roadshow Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2026 Surabaya pada 3 November 2026 lalu, saya berbagai pengalaman tentang bagaimana cerita yang sederhana dan autentik dapat membantu bisnis membangun kepercayaan, memperkuat brand, dan mendorong keputusan pembelian.
Mengapa Storytelling Penting dalam Membangun Bisnis?

Perjalanan bisnis yang saya rintis sejak tahun 2008 memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya memahami kebutuhan pasar, menjaga kepercayaan pelanggan, dan membangun bisnis secara bertahap. Ketika saya memutuskan membangun JETE sebagai brand sendiri pada 2014, saya semakin memahami bahwa bisnis tidak cukup hanya berfokus pada produk yang dijual, tetapi juga harus memiliki identitas dan nilai yang jelas.
Bagi saya, storytelling bukan sekadar menceritakan perjalanan sebuah bisnis, tetapi bagaimana kita mengomunikasikan nilai yang ingin diberikan kepada pelanggan. Cerita yang tepat dapat membantu konsumen memahami alasan suatu produk dibuat, manfaat yang ditawarkan, dan hal yang membedakannya dari produk lain di pasaran.
Namun, cerita yang menarik juga harus didukung oleh kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang sesuai. Sebab, brand yang kuat bukan hanya dikenal melalui cerita yang disampaikan, tetapi juga dipercaya karena mampu membuktikan janjinya.
Baca juga: Cara Membangun Personal Branding yang Kuat & Autentik dari Nol
Produk Berkualitas Saja Tidak Cukup, Konsumen Perlu Memahami Nilainya
Salah satu hal yang saya tekankan dalam membangun bisnis adalah pentingnya memahami kebutuhan konsumen sebelum menawarkan sebuah produk. Kita mungkin merasa telah menghadirkan produk dengan fitur dan kualitas yang baik. Namun, jika konsumen tidak memahami manfaatnya, mereka belum tentu memiliki alasan yang kuat untuk memilih produk tersebut.
Di sinilah storytelling memiliki peran penting. Melalui cerita, pelaku usaha dapat menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan, alasan produk dikembangkan, hingga manfaat nyata yang bisa dirasakan pelanggan. Pendekatan ini membantu konsumen melihat nilai produk, bukan sekadar membandingkan harga atau spesifikasinya.
Dalam membangun JETE dan Doran Gadget, saya juga belajar bahwa identitas brand perlu didukung oleh pengalaman pelanggan yang konsisten. Informasi produk harus jelas, kualitasnya sesuai dengan yang dijanjikan, dan pelayanan tetap diperhatikan, termasuk setelah pembelian.
Karena itu, strategi storytelling yang efektif bukan tentang membuat produk terlihat paling hebat, tetapi menunjukkan alasan mengapa produk tersebut relevan dan layak dipercaya. Ketika cerita didukung oleh bukti dan pengalaman nyata, konsumen memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan pembelian.
Baca juga: Mengapa Brand Identity Penting? Pelajaran Saya dalam Membangun JETE!
Bagaimana Cara Membangun Storytelling yang Menarik untuk UMKM?

Dalam kesempatan berbagi di WMM 2026, saya juga menekankan bahwa membangun storytelling tidak harus dimulai dari konsep pemasaran yang rumit atau anggaran besar. Bagi pelaku UMKM, ada beberapa hal yang menurut saya penting diperhatikan ketika membangun storytelling untuk memperkuat brand dan pemasaran produk:
- Kenali kebutuhan dan masalah konsumen. Sebelum membuat cerita, pahami terlebih dahulu siapa target pelanggan dan kebutuhan apa yang ingin dijawab oleh produk. Dengan begitu, pesan yang disampaikan menjadi lebih relevan dan tidak hanya berfokus pada keunggulan produk.
- Temukan keunikan yang menjadi pembeda. Setiap bisnis perlu memiliki nilai atau unique selling proposition (USP) yang jelas. Keunikan tersebut bisa berasal dari kualitas, proses produksi, manfaat, maupun pengalaman pelanggan. Namun, pastikan pembeda yang disampaikan benar-benar dapat dibuktikan.
- Bangun cerita yang sederhana dan autentik. Storytelling tidak harus menggunakan konsep yang berlebihan. Cerita mengenai alasan memulai usaha, tantangan mengembangkan produk, atau bagaimana produk membantu pelanggan sering kali lebih mudah dipahami ketika disampaikan secara jujur dan sederhana.
- Manfaatkan media sosial secara kreatif. Pelaku UMKM dapat memulai dari konten sederhana menggunakan smartphone, seperti video demonstrasi produk, proses produksi, edukasi, atau menjawab pertanyaan pelanggan. Hal yang terpenting bukan seberapa mahal konten dibuat, melainkan seberapa relevan pesan yang disampaikan.
- Jaga konsistensi antara cerita dan kualitas produk. Cerita yang menarik dapat membangun ekspektasi, tetapi pengalaman pelangganlah yang menentukan apakah kepercayaan itu dapat dipertahankan. Karena itu, pesan pemasaran harus sejalan dengan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.
Saya percaya bahwa kreativitas tidak selalu harus didukung oleh anggaran pemasaran yang besar. Pelaku UMKM bisa memulainya dari satu cerita yang dekat dengan kebutuhan pelanggan, mengemasnya menjadi konten sederhana, kemudian mengevaluasi respons yang diperoleh.
Baca juga: 7 Cara Menjadi Brand Top of Mind Agar Semakin Dikenal Pasar
Storytelling dalam Bisnis Membangun Kepercayaan
Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita mengukur keberhasilan storytelling dalam bisnis. Konten yang mendapatkan banyak penonton atau interaksi memang bisa membantu memperluas jangkauan brand. Namun, menurut saya, jumlah views dan followers saja belum cukup untuk menentukan keberhasilan sebuah strategi pemasaran.
Pelaku usaha juga perlu melihat apakah cerita yang disampaikan berhasil mendorong konsumen untuk mencari informasi lebih lanjut, mengunjungi toko, bertanya mengenai produk, atau melakukan pembelian. Dengan memahami respons tersebut, kita dapat mengevaluasi konten mana yang relevan dan strategi apa yang perlu diperbaiki.
Saya juga percaya bahwa membangun bisnis jangka panjang tidak cukup hanya dengan mengejar transaksi. Kepercayaan pelanggan harus terus dijaga melalui kualitas produk, pelayanan, dan pengalaman yang konsisten. Sebab, konsumen yang merasa puas memiliki alasan lebih kuat untuk kembali membeli maupun merekomendasikan produk kepada orang lain.
Baca juga: Masih Diminati, Ini 7 Strategi Pemasaran Offline yang Efektif!
Refleksi

Dari pengalaman membangun dan mengembangkan JETE serta Doran Gadget, saya belajar bahwa sebuah brand harus terus mendengarkan kebutuhan pelanggan, beradaptasi dengan perubahan pasar, dan menjaga nilai yang ingin disampaikan. Storytelling dapat membantu memperkenalkan nilai tersebut, tetapi kualitas dan konsistensilah yang akan membuktikannya.
Melalui Wirausaha Muda Mandiri 2026, saya berharap semakin banyak pengusaha muda yang berani membangun identitas bisnisnya sendiri dan memanfaatkan kreativitas untuk bersaing. Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar untuk mulai membangun cerita yang kuat.
“Pada akhirnya, storytelling bukan hanya tentang bagaimana membuat sebuah brand dikenal, tetapi bagaimana membuatnya layak dipercaya. Kenali pelanggan, ceritakan nilai yang kita miliki, dan buktikan melalui kualitas serta pengalaman yang konsisten.”