Fakta MacKenzie Scott, Filantropis Dunia yang Memilih Memberi dalam Diam

Fakta MacKenzie Scott

MacKenzie Scott adalah seorang penulis novel dan filantropis yang namanya masuk dalam daftar 100 perempuan paling berpengaruh di dunia pada tahun 2020. Saya pertama kali mengetahui fakta MacKenzie Scott bukan hanya sebagai mantan istri pendiri perusahaan teknologi raksasa, melainkan sebagai sosok yang berjalan dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan penuh makna. 

Setelah berpisah dengan Jeff Bezos pendiri Amazon, MacKenzie memperoleh 4 persen saham perusahaan tersebut. Kepemilikan itu mengantarkannya ke jajaran perempuan terkaya di dunia, dengan kekayaan puluhan miliar dolar AS. Namun, alih-alih terjebak pada status, ia memilih jalan yang jauh lebih sunyi namun berdampak. Inilah kisah MacKenzie Scott.

Profil dan Fakta MacKenzie Scott

Fakta MacKenzie Scott
BBC

Nama lengkapnya MacKenzie Scott Tuttle. Ia lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 7 April 1970. Berzodiak Aries, MacKenzie dikenal memiliki karakter tegas dan berani mengambil keputusan besar. Ia merupakan putri dari Holiday Robin dan Jason Baker Tuttle. Dalam kehidupannya, MacKenzie pernah menikah dengan Jeff Bezos dan kemudian Dan Jewett, serta dikaruniai empat orang anak.

Latar pendidikannya juga tak kalah menarik. MacKenzie menempuh pendidikan di Princeton University, mengambil jurusan Bahasa Inggris. Ia berprofesi sebagai novelis dan filantropis, serta sempat aktif di media sosial melalui akun @mackenziescott2020 dan @mackenziescott. Namun kini, ia memilih menjauh dari sorotan digital dan fokus pada dampak nyata.

Cinta Lama pada Dunia Sastra

Sejak kecil, MacKenzie sudah jatuh cinta pada dunia menulis. Bahkan, pada usia enam tahun, ia berhasil menulis buku setebal 142 halaman berjudul The Book Worm. Sayangnya, naskah tersebut hancur akibat banjir yang melanda rumah keluarganya. Meski demikian, kejadian itu tidak memadamkan semangatnya. Sebaliknya, ia semakin yakin bahwa menulis adalah bagian dari hidupnya.

Untuk mengejar mimpinya, MacKenzie melanjutkan studi ke Princeton. Di sana, ia berkesempatan belajar langsung di bawah bimbingan Toni Morrison, peraih Nobel Sastra. Morrison bahkan menyebut MacKenzie sebagai salah satu murid terbaik yang pernah ia ajar. Dari titik inilah, fondasi intelektual dan empati MacKenzie terbentuk dengan kuat.

Baca Juga: Profil Alexander Grenz yang Konsisten Saya Perhatikan di Industri Asuransi

MacKenzie Scott
The Philadelphia Inquirer

Perjalanan Karier dan Awal Amazon

Setelah lulus kuliah, MacKenzie sempat bekerja sebagai asisten peneliti Toni Morrison dalam pengerjaan novel Jazz yang terbit pada 1992. Tak lama kemudian, ia bekerja di D.E. Shaw, sebuah perusahaan hedge fund di New York. Di tempat inilah ia pertama kali bertemu Jeff Bezos. Hubungan mereka berkembang cepat, hingga akhirnya menikah pada 1993.

Tak lama setelah menikah, MacKenzie memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk menemani sang suami pindah ke Seattle. Dari sebuah garasi rumah, Amazon lahir sebagai toko buku online. Menariknya, ide awal Amazon terinspirasi dari kegemaran MacKenzie membaca. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan bagian penting dari fase awal perusahaan yang kelak mengubah wajah industri global.

Menerbitkan Novel di Tengah Kesibukan

Di tengah kesibukan membangun Amazon dan membesarkan anak, MacKenzie tetap setia pada dunia tulis-menulis. Pada 2005, ia menerbitkan novel The Testing of Luther Albright. Buku ini mendapat sambutan hangat dan memenangkan American Book Award pada 2006. Prestasi tersebut menegaskan bahwa identitasnya sebagai penulis berdiri utuh, terlepas dari bayang-bayang kesuksesan sang suami.

Novel keduanya, yang berjudul Traps dan terbit pada 2013 juga kembali mendapat pujian dari kritikus. Dari sini, saya melihat satu benang merah yang kuat. MacKenzie tidak pernah meninggalkan dirinya sendiri. Ia tetap menulis, berpikir, dan berkarya, meski hidupnya bergerak di lingkaran bisnis raksasa.

Perceraian dan Babak Baru Kehidupan

Setelah 25 tahun menikah, MacKenzie dan Jeff Bezos resmi bercerai pada 2019. Dari perpisahan itu, MacKenzie memperoleh 4 persen saham Amazon. Kepemilikan tersebut sempat menjadikannya salah satu perempuan terkaya di dunia. Namun, yang menarik bukanlah angka kekayaannya, melainkan apa yang ia lakukan setelahnya.

MacKenzie kemudian mengganti namanya menjadi MacKenzie Scott dan secara terbuka menyatakan komitmennya untuk menyumbangkan setidaknya setengah dari kekayaannya selama hidup. Ia menandatangani The Giving Pledge, sebuah janji moral yang menandai arah hidup barunya. Saat ini, ia dikenal sebagai sosok filantropis. 

Baca Juga: Profil Kuok Meng Ru: Anak Konglomerat yang Memilih Jalur Musik dan Teknologi

Suami MacKenzie Scott
la Repubblica

Berdonasi Puluhan Miliar Dollar AS

Sejak 2019, MacKenzie Scott telah mendonasikan puluhan miliar dolar AS kepada lebih dari 2.000 organisasi. Uniknya, hampir semua dilakukan tanpa konferensi pers, tanpa syarat ketat, dan tanpa ekspektasi pujian. Ia memilih pendekatan trust-based philanthropy, memberi kepercayaan penuh pada penerima dana untuk mengelolanya.

Ia lebih banyak mendukung organisasi kecil, komunitas lokal, kelompok perempuan, serta isu keadilan rasial, pendidikan, dan kesehatan reproduksi. Banyak pihak menyebutnya sebagai “tulang punggung baru” bagi organisasi yang selama ini terpinggirkan. Bagi saya, inilah bentuk keberanian yang jarang dibicarakan. Berani memberi, lalu mundur dari panggung.

Meluncurkan Yield Giving yang Transparan

Pada 2022, MacKenzie meluncurkan platform Yield Giving. Melalui situs ini, publik dapat melihat ke mana saja donasinya disalurkan. Tidak untuk pamer, melainkan demi transparansi. Bahkan, pada 2023, ia membuka hibah terbuka senilai 250 juta dolar AS bagi organisasi nirlaba dari berbagai negara.

Studi dari Center for Effective Philanthropy menunjukkan bahwa organisasi penerima dana MacKenzie tumbuh lebih cepat dan lebih stabil. Rata-rata, satu organisasi menerima sekitar 5 juta dolar AS, jauh di atas standar hibah konvensional. Dampaknya nyata, meski namanya jarang muncul di headline.

Sosok Inspiratif di Tengah Dunia yang Bising

Di dunia yang sering mengukur kesuksesan dari seberapa banyak yang dikumpulkan, MacKenzie Scott justru dikenang dari seberapa banyak yang ia lepaskan. Ia jarang tampil di publik, tak gemar pamer kekayaan, dan memilih hidup sederhana. Namun, dampaknya menyebar luas, menyentuh ribuan organisasi dan jutaan kehidupan.

Baca Juga: Profil Ciliandra Fangiono: CEO Sunyi di Balik Bisnis Sawit Raksasa

Penutup

Sosok Inspiratif MacKenzie Scott
TheWrap

Bagi saya, fakta MacKenzie Scott adalah pengingat sunyi bahwa inspirasi kerap lahir dari pilihan untuk tidak menjadi pusat perhatian. Ia membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah tenang, keputusan sadar, dan keberanian melepas. Lewat kisahnya, Anda dan saya diajak menoleh ke dalam, lalu bertanya ulang, ketika punya kesempatan, dampak apa yang ingin kita tinggalkan.