Profil Benny Suherman: Otak di Balik Dominasi Cinema XX yang Jarang Disorot!

Profil Benny Suherman Cinema XXI

Siapa yang tidak mengenal Cinema XXI? Hampir di setiap kota besar di Indonesia, jaringan bioskop ini menjadi destinasi utama bagi para pecinta film. Mulai dari film lokal hingga blockbuster Hollywood, Cinema XXI sudah menjadi bagian dari rutinitas hiburan banyak orang. Namun tak banyak yang mengenal profil Benny Suherman, sosok di balik besarnya Cinema XXI. 

Benny Suherman adalah co-founder sekaligus pemegang saham mayoritas PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk, perusahaan yang mengelola Cinema XXI. Kisah hidupnya bukan sekadar cerita sukses bisnis, tetapi perjalanan panjang membaca peluang, bertahan di masa krisis, dan berani mengambil keputusan besar. Simak detail perjalanan kisahnya.

Profil Benny Suherman

Profil Benny Suherman
Inilah

Benny Suherman lahir pada tahun 1948. Ia dikenal sebagai pengusaha dengan gaya low profile, jauh dari sorotan publik meski kekayaannya masuk jajaran elite nasional. Benny menikah dengan Cisca Suherman dan dikaruniai tiga anak, yaitu Suryo, Arif, dan Melia, yang kini aktif terlibat dalam manajemen Cinema XXI.

Dalam struktur keluarga, Benny bukan hanya figur ayah, tetapi juga mentor bisnis. Suryo Suherman saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur Cinema XXI, Arif Suherman sebagai Direktur, dan Melia Suherman sebagai Komisaris. Dari sini terlihat bahwa Benny tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga menyiapkan regenerasi kepemimpinan yang rapi dan terencana.

Menariknya, informasi mengenai latar belakang awal Benny Suherman memang tidak banyak beredar. Namun di industri perfilman, namanya dikenal luas sebagai salah satu perintis bisnis distribusi film di Indonesia. Reputasinya terbangun bukan dari sensasi, melainkan dari konsistensi dan hasil nyata.

Awal Perjalanan Karier

Perjalanan bisnis Benny Suherman dimulai pada tahun 1988. Saat itu, ia mendirikan perusahaan bernama Subentra Nusantara bersama Harris Lasmana dan Sudwikatmono. Visi mereka sederhana namun ambisius, yaitu menguasai distribusi film-film Hollywood di Indonesia. Di era tersebut, akses terhadap film internasional masih sangat terbatas. 

Subentra Nusantara hadir mengisi celah itu dan dalam waktu relatif singkat tumbuh menjadi raksasa distribusi film. Selama bertahun-tahun, perusahaan ini hampir memonopoli distribusi film Hollywood di Indonesia. Saya melihat fase ini sebagai pondasi penting yang kelak mengantar Benny membangun ekosistem bioskop modern. Namun, kesuksesannya sempat diterjang krisis ekonomi Asia di akhir 1990-an. 

Baca Juga: Profil Aruna Harsa: Anak Muda di Balik Dekoruma yang Masuk Forbes 30 Under 30!

Mendirikan Cinema XXI
Infobanknews

Alami Krisis Hingga Lahirnya Cinema XXI

Tahun 1999 menjadi momen krusial. Sudwikatmono memutuskan menjual sahamnya kepada Benny Suherman dan Harris Lasmana. Sejak 15 Juli 1999, kendali penuh perusahaan berada di tangan mereka berdua. Di titik inilah arah bisnis mulai berubah secara signifikan. Subentra Nusantara kemudian berganti nama menjadi PT Nusantara Sejahtera Raya (NSR).

Berawal dari situlah brand Bioskop 21 semakin dikenal luas oleh masyarakat. Tak lama kemudian, proses rebranding dilakukan dan nama Cinema XXI resmi diperkenalkan. Langkah ini terbukti tepat, karena Cinema XXI cepat melekat sebagai simbol bioskop modern di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Benny, Cinema XXI memperbanyak layar dan meningkatkan pengalaman menonton. 

Fasilitas modern, kualitas audio-visual yang mumpuni, hingga standar layanan yang konsisten menjadi fokus utama. Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa semakin nyaman dan premium. Perlahan namun pasti, Cinema XXI berhasil menguasai hampir 60 persen pasar bioskop nasional. Dominasi ini lahir dari strategi jangka panjang yang rapi, bukan sekadar kebetulan. 

Cinema XXI Tumbuh Menjadi Raksasa Industri

Seiring waktu, Cinema XXI berkembang jauh melampaui ekspektasi awal. Hingga kini, jaringan ini memiliki 256 bioskop dengan 1.346 layar yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini menjadikan Cinema XXI sebagai jaringan bioskop terbesar di Tanah Air, bahkan salah satu yang paling berkembang di Asia Tenggara.

Menurut saya, bagian paling menarik adalah cara Benny melihat bioskop bukan sekadar tempat memutar film. Cinema XXI dibangun sebagai pusat hiburan, ruang sosial, dan pengalaman. Elemen itulah yang justru membuatnya mampu bertahan bahkan saat industri hiburan menghadapi tantangan besar.

Baca Juga: Profil Haryanto Tanjo, Milenial yang Mengubah Nasib Ribuan UMKM dengan Moka!

Sosok Benny Suherman
Olenka

IPO Cinema XXI: Langkah Besar yang Mengubah Segalanya

Pada bulan Agustus tepatnya tahun 2023, Benny Suherman mengambil keputusan besar dengan membawa Cinema XXI melantai di Bursa Efek Indonesia. Initial Public Offering (IPO) berhasil menghimpun dana sekitar Rp2,25 triliun, sebuah angka yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap bisnis bioskop.

IPO ini tidak hanya memperkuat struktur keuangan perusahaan, tetapi juga mengukuhkan posisi Benny sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Setelah IPO, Benny memilih mundur dari jabatan Presiden Direktur dan menyerahkan tongkat estafet kepada putranya, Suryo Suherman. Meski begitu, ia tetap memegang kendali strategis sebagai pemilik saham mayoritas.

Masuk Daftar Forbes Billionaires Dunia

Forbes mencatat kekayaan Benny Suherman mencapai sekitar US$1,1 miliar atau setara Rp17,61 triliun. Pada 2023, ia berada di peringkat ke-43 orang terkaya Indonesia, dan pada 2024 masuk daftar Forbes Billionaires dunia di posisi ke-2.545. Tak banyak yang tahu, di baliknya ada puluhan tahun membangun bisnis, membaca tren, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. 

Pecahkan Rekor, Raih 14 Juta Penonton

Pada RUPST Maret 2025, Cinema XXI menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp750 miliar atau Rp9 per saham, dengan sisa dividen Rp4 per saham dibayarkan pada April 2025. Selain itu, perusahaan juga menyetujui program buyback saham senilai Rp300 miliar. Tak berhenti di situ, Cinema XXI mencatatkan rekor baru pada April 2025. 

Bioskop ini mencatat lebih dari 14 juta penonton hanya dalam satu bulan, melampaui rekor yang terakhir tercipta pada 2019. Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pengalaman menonton di layar lebar masih punya daya tarik besar. Di tengah gempuran platform streaming, bioskop tetap menawarkan sensasi kolektif yang sulit tergantikan. 

Baca Juga: Profil Meg Whitman: Dari eBay, HP, hingga Peran sebagai Duta Besar

Fakta Benny Suherman
Warta Ekonomi

Penutup

Bagi saya, profil Benny Suherman adalah contoh pengusaha yang berhasil membangun bisnis dengan visi jangka panjang dan kesabaran luar biasa. Ia tidak sekadar mengejar pertumbuhan cepat, tetapi membangun fondasi kuat, menyiapkan regenerasi, dan berani bertransformasi di waktu yang tepat.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa di balik brand besar yang kita kenal sehari-hari, selalu ada perjalanan panjang yang jarang terlihat. Jika Anda sedang mencari sosok inspiratif yang membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian mengambil keputusan bisa membawa perubahan besar, maka perjalanan hidup Benny Suherman bisa dijadikan inspirasi.