Ada satu hal yang selalu saya percaya, setiap inovasi besar biasanya lahir dari kebutuhan nyata yang dialami banyak orang. Ketika pertama kali saya mengenal profil Haryanto Tanjo, CEO sekaligus Co-Founder Moka membuat saya merasa bahwa kisahnya adalah bukti nyata dari keyakinan tersebut.
Bagi saya, Haryanto adalah contoh bagaimana visi, keberanian, dan ketulusan untuk membantu UMKM bisa membawa perubahan besar. Tidak heran jika ia masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia. Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak Anda melihat perjalanan Haryanto Tanjo dari sudut pandang yang lebih personal, berikut kisahnya.
Profil Haryanto Tanjo

Haryanto Tanjo lahir di Medan pada 10 Maret 1989. Ketika membaca kisah hidupnya, saya bisa merasakan bahwa passion di dunia teknologi sudah melekat sejak ia masih sangat muda. Tidak banyak orang yang berani mengambil jurusan yang benar-benar mencerminkan minat mereka, tapi Haryanto melakukannya dengan percaya diri.
Ia menempuh pendidikan Industrial Engineering and Operations Research di University of California, Berkeley, antara tahun 2007-2009. Bagi saya, jurusan itu bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang strategi, efisiensi, dan memahami bagaimana sebuah sistem bisa bekerja lebih optimal.
Tidak berhenti di situ, Haryanto kembali memoles kemampuannya dengan meraih gelar MBA dari UCLA Anderson School of Management pada 2012-2014. Di sinilah ia belajar lebih dalam soal manajemen bisnis, pengembangan organisasi, hingga bagaimana sebuah produk bisa benar-benar menjawab kebutuhan pasar.
Perjalanan Karier dari Perusahaan Besar ke Dunia Startup

Sebelum terjun penuh ke dunia startup, Haryanto sempat berkarya di beberapa perusahaan besar. Ia bekerja sebagai Manufacturing Engineer di Bayer HealthCare, lalu menjadi Consultant/Project Manager di Cisco Systems, serta Associate Consultant di Webster Pacific, LLC. Ia bahkan sempat bergabung dengan McKinsey & Company pada 2013.
Jika Anda pernah berada di lingkungan korporat, pasti tahu bagaimana pengalaman seperti itu bisa membentuk cara berpikir yang matang dan terstruktur. Namun, yang menurut saya menarik adalah keberaniannya untuk meninggalkan jalur karier nyaman demi menciptakan sesuatu yang benar-benar punya arti bagi banyak orang.
Baca Juga: Profil Eddy Sugianto: Dari Sales Hingga Jadi Raja Batubara Indonesia
Lahirnya Moka, Inovasi yang Berangkat dari Kepedulian

Saat mendalami kisah tentang bagaimana Moka dibangun, saya merasa inilah bagian paling inspiratif. Moka lahir bukan karena ambisi semata, tetapi karena kesadaran bahwa UMKM di Indonesia membutuhkan dukungan teknologi untuk bertahan dan berkembang. Haryanto bercerita bahwa dulu sebagian besar UMKM masih mengandalkan pencatatan manual.
Banyak dari mereka tidak punya modal untuk membeli sistem kasir digital. Saya yakin, Anda juga pasti mengenal atau pernah melihat kondisi seperti ini di lapangan. Melihat masalah tersebut, Haryanto dan Grady hadir dengan ide sederhana namun penting, menciptakan mobile POS (mPOS) yang mudah dan terjangkau.
Seiring berjalannya waktu, Moka berkembang luar biasa. Berkat kualitas produk dan visi yang jelas, Moka berhasil menarik perhatian investor besar seperti SoftBank Ventures Korea, EDBI, hingga Sequoia India and Southeast Asia. Tidak main-main, Moka menghimpun pendanaan lebih dari 28 juta dolar AS.
Baca Juga: Profil Kuncoro Wibowo: Dari Anak Tukang Perkakas Glodok Jadi Raja Ritel
Menjadi Pemimpin di Ekosistem GoTo Financial

Pada 2020, Gojek resmi mengakuisisi Moka. Bagi saya, ini adalah titik penting yang menunjukkan kesesuaian visi antara dua perusahaan besar, sama-sama ingin memberdayakan UMKM Indonesia. Setelah akuisisi, Haryanto kemudian menjadi bagian integral dari GoTo Financial.
Saat ini, Haryanto menjabat sebagai Head of Merchant Services, memimpin berbagai produk yang sangat dekat dengan kebutuhan pelaku usaha. Mulai dari GoPay Merchant App, Midtrans, Moka, hingga layanan Merchant Lending, semua berada di bawah kepemimpinannya. Saya melihat ini sebagai bentuk kepercayaan besar terhadap Haryanto.
Di tangan Haryanto, Moka terus tumbuh dan kini dipercaya oleh lebih dari 40.000 pengusaha di lebih dari 200 kota di Indonesia. Integrasinya dengan ekosistem Gojek, terutama melalui GoBiz, membuat teknologi ini semakin mudah dijangkau oleh pelaku UMKM.
Masuk Jajaran Forbes 30 Under 30 Asia
Pada 2019, Haryanto dan Grady masuk ke dalam Forbes 30 Under 30 Asia. Menurut saya, penghargaan ini mewakili UMKM Indonesia yang kini bisa merasakan kemudahan operasional berkat teknologi. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa inovasi dari kebutuhan masyarakat bisa menuju panggung internasional.
Baca Juga: Kisah Sukses Jeff Weiner, Sosok yang Membawa LinkedIn ke Puncak
Penutup
Bagi saya, perjalanan dari profil Haryanto Tanjo dan kariernya adalah contoh nyata bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ide yang rumit, kadang justru muncul dari keberanian melihat masalah sehari-hari dan keinginan tulus untuk membantu orang lain. Cara Haryanto berdampak luas pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kisahnya juga mengingatkan saya bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil, selama langkah itu diambil dengan penuh komitmen. Dan untuk Anda yang sedang membangun bisnis atau merintis startup, perjalanan Haryanto bisa menjadi bukti bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang mau belajar dan berani bergerak.

