Tips Menentukan Arah Bisnis: Pengalaman Berbagi di IdeaCloud Conference 2026

Dari kiri, Merry Riana, Hermanto Tanoko, dan Jhonny Thio Doran dalam talk show dan sharing season di IdeaCloud Conference 2026 (photo: Jawa Pos)

Pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 saya berkesempatan berbagai bersama kawan-kawan di acara IdeaCloud Conference 2026. Ada delapan pembicara yang inspiratif di bidang bisnis dan kreatif. Dalam kesempatan ini pula saya duduk satu panggung bersama Hermanto Tanoko (founder dan CEO TANCORP) dan Merry Riana (entrepreneur dan content creator). Pembahasan pun tak jauh-jauh dari tips menentukan arah bisnis.

Para peserta konferensi sangat antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Saya mendapatkan banyak insight baru dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan peserta tersebut. Namun, ada lima yang menarik bagi saya sebagai seorang founder bisnis, dan inilah pertanyaan mereka:

Bagaimana Cara Mengetahui Bisnis yang Tepat untuk Kita?

Saya selalu percaya, bisnis yang tepat itu bisa dirasakan bahkan sebelum angka berbicara. Tolok ukurnya sebenarnya cukup sederhana, apakah kita masih sibuk memikirkan work-life balance?

Bagi saya sendiri, ketika seseorang cinta terhadap pekerjaannya maka konsep work-life balance jadi kabur. Maksudnya, bukan karena hidupnya tidak seimbang, tapi karena pekerjaannya adalah bagian dari hidup itu sendiri.

Saya teringat, ketika dahulu mulai membangun brand JETE, saya tidak merasa ‘bekerja’. Namun, saya merasa sedang menjalani sesuatu yang saya yakini. Setelah sekian tahun berlalu, perlahan itu membuahkan hasil.

Kapan Sebaiknya Kita Melakukan Promosi untuk Bisnis?

Dalam sebuah bisnis apapun, promosi adalah bagian penting. Meski begitu, tetap harus ada waktu kapan kita harus ngegas dan harus ngerem.

Atau jika bisa diibaratkan, promosi terkadang seperti api. Jika api itu kecil mungkin tidak akan terasa, namun jika terlalu besar akan membakar habis semuanya, termasuk modal kita.

Oleh karena itu, mengapa saya di JETE memberikan promosi seperti diskon hanya di momen tertentu atau season khusus saja. Misalnya saat launching produk baru. Tujuannya jelas, menurunkan entry barrier agar konsumen berani mencoba. Tapi satu hal yang selalu saya tekankan ke tim adalah promosi harus optimal, bukan emosional.

Ingat, bisnis bukan sprint melainkan seperti marathon. Jangan habiskan tenaga di kilometer pertama hanya demi terlihat cepat. Budget yang dibakar tanpa strategi hanya akan membuat kita kelelahan sebelum sampai garis akhir.

Melepas Kendali Perusahaan atau Mencari Investor?

Peluncuran ASPIN di Hotel Vasa Surabaya, Sabtu (31/1/2025), dihadiri sejumlah pengusaha dan tokoh penting Indonesia. (photo: Kilas Jatim).

Tips menentukan arah bisnis yang jadi sering perbincangan lain adalah kapan kita harus melepas kendali penuh atas perusahaan atau mencari investor. Pertanyaan ini juga terkadang bikin seorang founder ragu. Saya pernah ada di fase ingin mengendalikan semuanya sendiri.

Bagi saya pribadi, mencari investor bukan soal melepas kontrol, tapi soal memperbesar peluang. Saat kita yakin bisnis bisa bertumbuh, yakin investor tidak akan rugi, dan kita melihat peluang besar tapi terhalang keterbatasan finansial, di sinilah peran investor untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Daripada sendiri tapi perusahaan stuck, ini akan menjadi sinyal yang kurang bagus.

Berhutang untuk Memperbesar Bisnis, Bolehkah?

Jawaban saya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang penanya adalah jujur, berhutang dalam bisnis sangatlah boleh. Utang bukan musuh bisnis, pengelolaan yang buruklah musuh sebenarnya.

Di sini, pertanyaannya bukan “boleh atau tidak”, tapi “peluangnya ada atau tidak?”. Kalau peluang jelas, market ada, tapi yang menghambat hanya modal, maka utang bisa menjadi alat untuk tumbuh lebih cepat.

Tentu berhutang sebagai langkah menentukan arah bisnis harus ada catatan. Poin yang paling penting ialah hutang itu dikelola dengan bijaksana. Jangan berhutang untuk menutup lubang, tapi berutang untuk membuka jalan. Resource sering kali menjadi kendala terbesar bagi sebuah bisnis.

Kapan Kita Memutuskan Menutup atau Melanjutkan Bisnis yang Merugi?

Pertanyaan ini adalah yang paling menarik dan jadi bagian tersulit dalam perjalanan saya sebagai entrepreneur. Saya pernah membuka toko roti dengan konsep wisata. Hype-nya besar, respons awalnya juga cukup bagus.

Setelah itu, tak lama pandemi COVID-19  datang. Perlahan kami melihat tanda-tandanya yang nampaknya kurang bagus. Mulai dari potensi pasar menurun, fokus founder terpecah, dan jujur saja kami tidak juara di kategori itu.

Di tahun 2021, saya pun harus mengambil keputusan yang tidak populer, yakni menyudahi bisnis ini. Sebagai catatan, bukan karena menyerah, tapi karena sadar. Tidak semua yang kita mulai harus kita pertahankan sampai akhir. Kadang, menutup bisnis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sebuah kegagalan.

Bagi saya, bisnis harus menjawab tiga hal utama yakni ada potensi, ada fokus, dan kita punya keunggulan. Kalau ketiganya tidak lagi ada, melanjutkan hanya akan menguras energi dan waktu saja.

Setidaknya, itulah beberapa pengalaman dan tips menentukan arah bisnis  yang bisa saya bagikan kepada teman-teman semua dalam IdeaCloud Conference 2026. Semoga bisa menginspirasi untuk terus tumbuh bersama!