Profil Ciliandra Fangiono: CEO Sunyi di Balik Bisnis Sawit Raksasa

Profil Ciliandra Fangiono Fi

Saya sering menemukan satu pola menarik ketika menulis tentang tokoh-tokoh besar di dunia bisnis. Semakin besar perusahaannya, semakin sunyi pula sosok yang menjalankannya. Profil Ciliandra Fangiono adalah contoh nyata dari pola itu. Namanya jarang muncul dalam sorotan publik, namun pengaruhnya terasa kuat di balik industri kelapa sawit Indonesia.

Ciliandra Fangiono dikenal sebagai penerus sekaligus pengelola bisnis keluarga di sektor perkebunan kelapa sawit. Ia menjabat sebagai CEO First Resources Limited, perusahaan yang terdaftar di Bursa Singapura dan mengelola ratusan ribu hektar perkebunan di Indonesia. Sosoknya cenderung tertutup. Namun, siapa sebenarnya Ciliandra Fangiono? Berikut fakta menariknya. 

Profil Ciliandra Fangiono

Ciliandra Fangiono
Sabang Merauke NEWS

Ciliandra Fangiono adalah pengusaha asal Indonesia yang merupakan generasi kedua dari First Resources, salah satu perusahaan besar di sektor kelapa sawit dan bisnis oleokimia. Perusahaan ini didirikan oleh sang ayah, Martias Fangiono, yang telah merintis usaha perkebunan sejak awal 1990-an. 

Bersama keluarganya, termasuk sang saudara Cik Sigih Fangiono yang menjabat sebagai wakil kepala eksekutif, Ciliandra menguasai sekitar 85 persen saham perusahaan tersebut. Lahir di Riau pada tahun 1976, Ciliandra adalah anak ketiga dari Martias Fangiono. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan keluarga pengusaha, namun jalannya tidak serta-merta instan. 

Ciliandra menjalani proses panjang sebelum akhirnya memegang kendali perusahaan. Namanya mulai dikenal publik ketika Forbes memasukkannya ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2014, ia menempati peringkat ke-22 dan tercatat sebagai orang terkaya termuda dalam daftar tersebut sejak 2012. Hingga beberapa tahun berikutnya, posisinya tetap bertahan. 

Latar Belakang Pendidikan 

Jika Anda bertanya bagaimana karakter kepemimpinan Ciliandra terbentuk, jawabannya bisa ditelusuri dari latar belakang pendidikannya. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari University of Cambridge, Inggris. Sebuah institusi akademik yang dikenal dengan standar ketat dan lingkungan intelektual yang kompetitif. 

Selama menempuh pendidikan di sana, ia juga meraih penghargaan dari Price Waterhouse, yang menunjukkan kapasitas akademik dan profesionalnya sejak dini. Setelah lulus, Ciliandra tidak langsung pulang untuk mengelola bisnis keluarga. Ia memilih bekerja sebagai staf investment banking di Merrill Lynch, Singapura, selama dua tahun. 

Pengalaman ini menjadi fase penting dalam hidupnya. Dunia perbankan investasi menjadikan ia terlatih dalam berpikir strategis, membaca risiko, dan memahami dinamika pasar global. Bekal inilah yang kelak sangat berguna saat ia masuk ke industri perkebunan yang kompleks dan penuh tantangan.

Baca Juga: Profil Haryanto Tanjo, Milenial yang Mengubah Nasib Ribuan UMKM dengan Moka!

Ilustrasi Lahan Sawit
Olenka_Kontan

Memimpin 200 Ribu Hektar Perkebunan

Pada tahun 2007, Ciliandra resmi bergabung dengan Dewan Direksi First Resources Ltd. Dua tahun kemudian, ia diangkat sebagai CEO. Saat itu, perusahaan telah memiliki aset perkebunan besar di Sumatera dan Kalimantan, serta tercatat di Bursa Singapura sejak 2007. Di bawah kepemimpinannya, First Resources mengalami pertumbuhan signifikan. 

Pada akhir 2013, luas lahan perkebunan perusahaan tercatat sekitar 170.596 hektar, dengan 12 pabrik kelapa sawit yang beroperasi. Enam tahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 211.823 hektar dengan 15 pabrik pengolahan. Selain kelapa sawit, perusahaan juga mengelola ribuan hektar perkebunan karet. 

Aktivitas bisnisnya terintegrasi, mulai dari produksi tandan buah segar hingga pengolahan minyak kelapa sawit mentah dan inti sawit untuk pasar domestik maupun ekspor. Jika dilihat dari sudut pandang saya, inilah kekuatan utama Ciliandra, yaitu membangun sistem yang solid, bukan sekadar mengejar ekspansi.

Memperluas Jangkauan dan Nilai Tambah Bisnis

Sebagai CEO, Ciliandra tidak hanya fokus pada perluasan lahan. Ia juga mendorong pengembangan produk sampingan dan pengelolaan limbah perkebunan, seperti air limbah, serat, cangkang, dan tandan kosong. Langkah ini menunjukkan kesadarannya terhadap efisiensi dan keberlanjutan, dua isu krusial dalam industri sawit.

Di bawah kepemimpinannya, aset perkebunan First Resources meningkat dari sekitar 148.000 hektar menjadi lebih dari 247.000 hektar. Ia juga mendirikan PT Ciliandra Perkasa, perusahaan yang bergerak di sektor penanaman, pengilangan, dan pengolahan kelapa sawit. Perusahaan ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di luar entitas induk.

Baca Juga:Profil Meg Whitman: Dari eBay, HP, hingga Peran sebagai Duta Besar

Profil Ciliandra Fangiono First Resources
tvOneNews

Punya Kekayaan 39 Triliun Rupiah

Berdasarkan profil Ciliandra Fangiono, usianya belum genap 50 tahun ketika namanya masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Hingga 2024, Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$2,4 miliar atau sekitar Rp39 triliun. Angka ini tentu terdengar fantastis, namun bagi saya, yang lebih menarik adalah konsistensi pertumbuhannya.

Kekayaan tersebut tidak hanya berasal dari warisan, tetapi juga dari pengelolaan dan ekspansi bisnis yang terukur. Selain First Resources, Ciliandra mengendalikan berbagai entitas lain seperti PT FAP Agri Tbk., PT Ciliandra Perkasa, dan PT Ciliandry Anky Abadi bersama saudara-saudaranya. Struktur kepemilikan ini menunjukkan betapa kuatnya peran keluarga Fangiono dalam industri sawit nasional.

Akuisisi Besar dan Langkah Strategis

Salah satu langkah besar yang menyita perhatian publik adalah akuisisi PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) oleh PT Ciliandra Perkasa. Nilai transaksi ini mencapai US$329,75 juta dan menjadikan Ciliandra sebagai pengendali sekitar 91,17 persen saham ANJT. Akuisisi ini bukan sekadar ekspansi aset, tetapi juga sinyal kuat bahwa First Resources terus memperkuat posisinya di industri.

Proses akuisisi dilakukan melalui mekanisme yang transparan dan kompetitif, melibatkan negosiasi independen dan skema pembayaran bertahap. Bagi Anda yang mengikuti dunia bisnis, langkah ini menunjukkan kematangan strategi dan keberanian mengambil keputusan besar di tengah dinamika industri global.

Gaya Kepemimpinan yang Sunyi Namun Tegas

Ciliandra Fangiono bukan tipe yang sering tampil di media atau berbagi kisah personal. Ia memilih bekerja di balik layar, membiarkan angka, laporan kinerja, dan ekspansi bisnis berbicara. Gaya ini mungkin tidak populer di era personal branding, tetapi justru mencerminkan fokus pada substansi. Menurut saya, kepemimpinan seperti ini menuntut disiplin tinggi dan kepercayaan diri yang matang. 

Baca Juga: Perjalanan Martin Reyhan Suryohusodo: Kisah Anak Surabaya yang Sukses Masuk Forbes 30 Under 30 Asia

Penutup

Profil Ciliandra Fangiono adalah kisah tentang kesinambungan, strategi, dan ketenangan dalam mengelola kekuatan besar. Ia membuktikan bahwa menjadi pewaris bisnis bukan berarti berjalan tanpa usaha. Dengan latar pendidikan global, pengalaman profesional, dan visi jangka panjang, Ciliandra membawa First Resources tumbuh menjadi pemain terintegrasi yang disegani.