Bukan tentang pendiri startu pbiasa, sosok ini berhasil mengubah industri yang jarang tersentuh teknologi. Ketika pertama kali membaca tentang Martin Reyhan Suryohusodo, saya langsung merasa bahwa perjalanan anak muda asal Surabaya ini punya sesuatu berbeda. Sosok Martin mendirikan platform Otoklix yang berdampak besar.
Hal lain yang membuat saya semakin terkesan adalah, Martin berhasil masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia dan Forbes Asia 100 to Watch pada tahun 2021. Nama Otoklix ikut melambung bersamaan dengan prestasi pribadinya. Mari kita simak perjalanan dari Martin Reyhan Suryohusodo.
Fakta Martin Reyhan Suryohusodo

Pada 2021 lalu, Forbes merilis daftar 30 Under 30 Asia dan di antara nama-nama besar itu, muncul dua anak muda Indonesia, yaitu Joseph Alexander Ananto dan Martin Reyhan Suryohusodo. Saat itu, mereka baru berusia 23 tahun dan mendirikan Otoklix, startup jaringan bengkel yang kini semakin populer. Simak kisah menariknya.
1. Profil Singkat
Martin Reyhan Suryohusodo lahir di Surabaya pada 11 Juni 1997. Ia menghabiskan masa SMP dan SMA di kota kelahirannya sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Melbourne, Australia. Di sana, ia mengambil jurusan Finance and Accounting, bidang yang sangat berguna ketika membangun startup.
Setelah lulus, Martin tidak langsung terjun ke dunia startup. Ia sempat bekerja selama 10 bulan di EY-Parthenon, perusahaan konsultasi manajemen global milik Ernst & Young. Ketika masih kuliah, ia juga pernah magang di Catch.com.au, salah satu e-commerce terbesar di Australia.
Menurut saya, pengalaman tersebut membentuk fondasi bagi Martin untuk memahami bisnis, teknologi, dan strategi korporasi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah hilang dari dirinya sejak SMA, yaitu kecintaannya di dunia otomotif. Dari hobi, ia mulai menyadari berbagai masalah perbengkelan, terutama transparansi harga.
2. Konsep Awal Otoklix
Kalau Anda pernah merasa bingung atau ragu soal harga servis mobil, Martin juga pernah berada di posisi itu. Bahkan, pengalaman tidak menyenangkan inilah yang akhirnya menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Suatu hari, ia membeli lampu mobil di bengkel dengan harga Rp2 juta.
Namun, setelah dipasang ia menemukan bahwa komponen yang sama dijual di Alibaba hanya Rp500 ribu. Selisih harganya mencapai empat kali lipat! Dari situ, Martin sadar bahwa industri perbengkelan sangat tidak transparan. Harga bisa berbeda jauh dan pelanggan sering kali tidak tahu apakah mereka membayar harga wajar atau tidak.
Tidak ada standar, tidak ada informasi jelas, dan tidak ada sistem yang memudahkan semua pihak. Pengalaman ini membuat Martin bertanya, “Kenapa tidak ada platform yang bisa menghubungkan bengkel dan pelanggan secara lebih adil?” Pertanyaan sederhana itulah yang akhirnya menjadi awal dari Otoklix.
Baca Juga: 7 Pengusaha Muda Jawa Timur, Berhasil Bangun Bisnis dari Nol!

3. Lebih dari 10.000 Mobil Diservis Setiap Bulan
Dalam enam tahun, Otoklix berkembang pesat dan menjadi pemain penting di industri otomotif Indonesia. Saat ini, lebih dari 600 bengkel sudah tergabung dalam platform mereka. Bahkan, sekitar 10.000 mobil diservis melalui Otoklix setiap bulan. Bagi saya, ini angka yang besar untuk sebuah startup.
4. Perjalanan Awal Mencari Investor
Di fase awal, Martin bukan hanya menjadi CEO, tetapi juga menjadi “segala-galanya”. Ia harus mencari investor, memimpin pengembangan produk, mengelola teknologi, hingga menangani HR dan keuangan. Sementara itu, Joseph fokus pada operasional ritel dan Benny bertanggung jawab pada pengadaan suku cadang.
Kerja keras itu akhirnya menghasilkan pendanaan awal sebesar USD 2 juta dari Surge, program akselerator milik Sequoia Capital India. Menurut saya, mendapatkan pendanaan dari Sequoia bukan hal kecil. Hal tersebut menunjukkan bahwa ide Martin dan timnya memang memiliki potensi besar.
Baca Juga: 7 Fakta Achmad Zaky, Berawal Dari Kamar Kos Hingga Mendirikan Startup Unicorn

5. Pendaan Meningkat 13x Lipat
Pendanaan tersebut kemudian digunakan untuk mengembangkan kerja sama dengan ratusan bengkel dan menargetkan hingga 100.000 mobil yang dapat diservis per bulan. Dalam wawancaranya, Martin menyebut bahwa industri layanan purna jual di Indonesia sangat terfragmentasi dan kurang populer untuk dijadikan ladang inovasi.
Namun, di situlah letak peluangnya. Menariknya, antara April hingga Oktober 2020, pendapatan Otoklix meningkat 13 kali lipat, dan pengguna mereka tumbuh 40 kali lipat. Pertumbuhan secepat itu tentu bukan hal yang biasa. Anda pasti sudah tahu bahwa pandemi membuat banyak bisnis tumbang, tetapi Otoklix justru bangkit.
6. Masuk Jajaran Forbes 30 Under 30
Inspirasi Martin memulai Otoklix datang dari acara Kominfo yang memperkenalkan berbagai startup di Indonesia. Ia menemukan bahwa belum ada platform yang fokus pada digitalisasi bengkel mobil. Maritn menceritakan idenya kepada Joseph dan mengajak Benny yang telah berpengalaman lebih dari 15 tahun di industri otomotif.
Akhirnya, mereka mendirikan Otoklix pada Agustus 2019. Setahun kemudian, startup ini mendapat pendanaan USD 10 juta dari Alpha JWC dan AC Ventures. Pada 2021, Otoklix masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch dan Martin masuk Forbes 30 Under 30 Asia, bukti bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di panggung internasional.
7. Kolaborasi dengan OLX Auto
Pandemi membawa tantangan besar, yaitu pendapatan Otoklix sempat menurun hingga 90%. Alih-alih menyerah, mereka justru berinovasi. Salah satu layanan menarik yang mereka kembangkan adalah home pick up delivery, yaitu penjemputan mobil gratis dari rumah pelanggan untuk servis di bengkel.
Otoklix juga berkolaborasi dengan OLX Auto untuk menghadirkan Otoklix Guarantee Plus, berupa garansi mobil bekas selama satu tahun. Inovasi tersebut membuat pembeli mobil bekas merasa lebih aman karena servisnya dijamin di bengkel Otoklix. Martin dan tim juga menargetkan Otoklix menjadi one stop solution untuk semua kebutuhan mobil.
Baca Juga: Profil Anderson Sumarli: Perjalanan Inspiratif CEO Ajaib Menuju Unicorn Fintech

Penutup
Bagi saya pribadi, kisah Martin Reyhan Suryohusodo adalah contoh nyata bagaimana pengalaman sehari-hari bisa berubah menjadi bisnis besar ketika digabungkan dengan keberanian, visi, dan kerja keras. Melihat seseorang yang dari hobi otomotif justru menciptakan solusi besar untuk ribuan orang, rasanya sangat menginspirasi.
Sebagai pembaca, Anda mungkin menemukan bahwa peluang besar kadang datang dari hal-hal sederhana yang sering kita temui. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin membangun sesuatu dari pengalaman pribadi dan menjadikannya dampak besar.

