Saya sering merasa bahwa kisah pengusaha paling kuat justru lahir dari jalan yang sunyi. Bukan dari panggung konferensi atau sorotan media, melainkan dari ruang kerja, pabrik, dan keputusan-keputusan panjang yang jarang diketahui publik. Salah satu yang memberi kesan mendalam bagi saya adalah profil Eddy Katuari.
Nama Eddy William Katuari mungkin tidak sering muncul di pemberitaan. Namun produknya hampir selalu hadir di kehidupan sehari-hari. Sebagai pemilik Wings Group, Eddy membuktikan bahwa pengaruh besar tidak selalu membutuhkan sorotan besar, cukup konsistensi, ketekunan, dan visi jangka panjang. Simak perjalanan kisahnya yang menginspirasi.
Profil Eddy Katuari

Eddy William Katuari adalah pengusaha asal Indonesia yang dikenal sebagai pemilik Wings Group, salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Tanah Air. Ia merupakan generasi kedua dari keluarga Katuari yang melanjutkan bisnis yang dirintis sejak 1948. Di bawah kepemimpinannya, Wings Group berkembang pesat.
Portofolio produknya mencakup kebutuhan rumah tangga, perawatan pribadi, hingga makanan dan minuman. Meski membangun bisnis berskala besar, Eddy dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang tenang dan cenderung konservatif. Ia lebih fokus pada pondasi jangka panjang dibanding ekspansi agresif yang berisiko. Pendekatan inilah yang membuat Wings Group tumbuh stabil.
Cikal Bakal Wings Group
Wings Group bukanlah perusahaan yang lahir dari modal besar atau privilege instan. Cikal bakalnya dimulai pada tahun 1948 di Surabaya, ketika Johannes Ferdinand Katuari bersama sahabatnya Harjo Sutanto memproduksi sabun batangan secara sederhana dari rumah. Usaha kecil itu awalnya bernama Firma Thong Fat, dengan produk perdana Wings Soap.
Nama “Wings” sendiri dipilih sebagai simbol harapan agar bisnis ini bisa “terbang tinggi”. Sebuah mimpi yang terdengar sederhana, tetapi kelak terbukti sangat visioner. Saya membayangkan bagaimana bisnis ini tumbuh pelan di tengah keterbatasan. Tidak ada strategi ekspansi agresif, hanya fokus pada kualitas, produksi, dan distribusi yang rapi.
Baca Juga: Perjalanan Martin Reyhan Suryohusodo: Kisah Anak Surabaya yang Sukses Masuk Forbes 30 Under 30 Asia

Masuk Generasi Kedua: Eddy dan Estafet yang Tidak Ringan
Sebagai generasi kedua, Eddy William Katuari tidak hanya mewarisi bisnis, tetapi juga tanggung jawab besar. Ia masuk ke dalam struktur manajemen Wings Group dengan pendekatan yang relatif tenang. Alih-alih melakukan perubahan drastis, Eddy memilih memahami sistem yang sudah berjalan dan menghormati pondasi yang dibangun pendahulunya.
Perlahan, perannya semakin strategis. Eddy mulai terlibat dalam pengambilan keputusan penting, mulai dari penguatan distribusi hingga pengembangan produk. Pendekatannya cenderung konservatif, namun penuh perhitungan. Di titik ini, saya melihat satu hal menarik. Tidak semua pemimpin harus tampil flamboyan. Ada tipe pemimpin yang bekerja dalam senyap, tetapi dampaknya luas.
Mengubah Sabun Menjadi Portofolio Raksasa Konsumsi
Di bawah kepemimpinan Eddy, Wings Group berkembang jauh melampaui bisnis sabun dan deterjen. Merek-merek seperti So Klin, Daia, Giv, dan Ciptadent menjadi nama yang akrab di berbagai lapisan masyarakat. Transformasi besar terjadi ketika Wings masuk ke industri makanan dan minuman. Peluncuran Mie Sedaap menjadi langkah berani, mengingat pasar mi instan didominasi pemain besar.
Namun dengan strategi harga, rasa, dan distribusi yang tepat, Mie Sedaap berhasil menjadi pesaing serius. Selain itu, Wings juga menghadirkan produk seperti Teh Rio, Segar Sari, Top Coffee, Ale-Ale, hingga Floridina. Semua bergerak dengan satu pola yang konsisten, yaitu produk terjangkau, mudah ditemukan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Diversifikasi Sunyi yang Justru Menguatkan
Memasuki era 2000-an, Eddy membawa Wings Group ke fase diversifikasi bisnis. Ia menyadari bahwa ketergantungan pada satu sektor dapat menjadi resiko besar. Maka ekspansi dilakukan ke berbagai bidang, mulai dari properti, perkebunan, oleochemical, hingga industri keramik dan kemasan.
Salah satu langkah strategisnya adalah mendirikan PT Ecogreen Oleochemicals bersama Grup Salim dan Grup Lautan Luas. Perusahaan ini bergerak di sektor bahan kimia berbasis minyak nabati, yang menjadi tulang punggung banyak industri hilir. Di sisi lain, Wings juga memperkuat rantai pasok melalui kerja sama di sektor kemasan dan manufaktur.
Baca Juga: Profil Eddy Sugianto: Dari Sales Hingga Jadi Raja Batubara Indonesia

Krisis 1998: Ujian yang Membuktikan Karakter
Salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan Wings adalah krisis moneter 1998. Banyak perusahaan besar runtuh, namun Wings justru meluncurkan produk baru, yaitu deterjen Daia. Keputusan ini terdengar berisiko, tetapi terbukti tepat. Langkah tersebut menunjukkan karakter bisnis yang tidak panik menghadapi krisis.
Alih-alih menahan diri berlebihan, Wings membaca peluang di tengah keterbatasan daya beli masyarakat. Dari sini, saya melihat bahwa keberanian sejati sering kali lahir dari perhitungan yang matang, bukan spekulasi. Keputusan semacam inilah yang membuat bisnis tidak sekadar bertahan, tetapi justru menemukan momentum untuk tumbuh.
Kolaborasi Global, Standar Internasional
Wings juga membuka diri terhadap kerja sama internasional. Pada era 1990-an, kemitraan dengan Lion Corporation melahirkan Lion Wings. Dari kolaborasi ini, lahirlah produk-produk perawatan pribadi seperti Kodomo, Zinc, dan Ciptadent dengan standar kualitas global. Bagi saya, langkah ini menunjukkan bahwa Eddy tidak hanya fokus membesarkan skala, tetapi juga meningkatkan mutu.
Kini, produk Wings melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, Afrika, hingga Timur Tengah. Namun sorotan publik baru benar-benar mengarah pada keluarga Katuari ketika The Apurva Kempinski Bali, salah satu aset Wings di sektor properti, menjadi lokasi utama KTT G20 tahun 2022. Momen ini membuka mata banyak orang bahwa Wings bukan sekadar perusahaan consumer goods.
Masuk Jajaran Taipan, Tetap Rendah Hati
Pada 2021, kekayaan Eddy William Katuari diperkirakan mencapai sekitar US$1 miliar, menempatkannya dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Pada 2023, Forbes kembali mencatat keluarga Katuari dalam daftar tersebut dengan estimasi kekayaan sekitar US$1,03 miliar. Namun menariknya, peningkatan statusnya membuat Eddy tetap dikenal sebagai sosok yang jarang tampil.
Baca Juga: Profil Muhammad Alfatih Timur: Anak Muda yang Gerakkan Jutaan Aksi Kebaikan
Penutup

Profil Eddy William Katuari mengingatkan saya bahwa kesuksesan tidak selalu harus bising. Ada jalan panjang yang ditempuh dengan ketenangan, kehati-hatian, dan kesabaran lintas generasi. Di dunia yang sering tergoda pertumbuhan instan, pendekatan yang dilakukan Eddy terasa relevan dan menenangkan.
Bagi Anda yang sedang membangun usaha, mungkin kisah ini memberi perspektif baru. Bertumbuh pelan bukan berarti Anda tertinggal dan bekerja dalam senyap bukan berarti tidak berdampak. Anda bisa mengambil contoh seperti apa yang dilakukan Wings Group. Strateginya membuktikan bahwa pondasi yang kuat sering kali dibangun jauh sebelum dunia menyadarinya.

