Bagaimana dengan cerita tentang pindahnya saya dari kost ke ruko sebelumnya? Insight apa yang bisa kamu ambil? Jika belum baca, silakan klik di sini, ya!
Oke, di tulisan saya kali ini akan bercerita bagaimana awal lahirnya brand JETE saat merintis bisnis dari ruko tersebut…
Banyak orang bilang kalau masa paling menegangkan dalam bisnis adalah saat penjualan turun. Bagi saya itu tidak sepenuhnya benar, dan justru sebaliknya fase paling sunyi adalah ketika bisnis terlihat baik-baik saja. Lho, kok bisa?
Itulah yang saya rasakan di tahun 2012–2013. Aktivitas padat, produk bertambah, pesanan tetap jalan. Dari luar semuanya memang terlihat tampak aman-aman saja. Tapi tahukah kamu di dalam diri saya, ada satu pertanyaan yang terus membayangi:
Hai Jhonny, sampai kapan kamu hanya menjual produk orang lain terus?
Semakin lama, saya abaikan saja pertanyaan itu, tapi semakin kesini semakin keras suaranya. Di satu sisi pasar aksesori gadget makin ramai, pemain baru bermunculan, harga makin kompetitif, dan pembeda antar penjual semakin tipis. Pikiran pun semakin berkecamuk ketika semua berjalan cepat, namun rasanya tidak benar-benar bergerak maju. “Apakah ada yang salah”, batin saya!
Pernah, sampai di satu waktu saat saya sendiri menghitung angka, mengecek stok barang, pikiran saya terhenti dan terlintas, kalau semua orang bisa menjual barang yang sama, lalu apa sebenarnya yang sedang saya bangun dan bikin legacy?
Jawaban Itu Pun Muncul
Sampai pada titik, jawaban itu pun muncul. Bukan dalam bentuk modul, buku, atau susunan strategi rumit dengan angka-angka yang bikin pusing, tapi rasa keberanian. Pada tahun 2014, saya akhirnya memutuskan untuk punya brand sendiri. JETE adalah nama yang terlintas saat itu, sederhana saja. Nama itu tidak lain akronim dari dua nama saya sendiri, Jhonny Thio.
Tidak ada seremoni khusus peresmian nama ini. Hanya keyakinan bahwa kalau saya ingin bertahan lama, saya tidak bisa selamanya berdiri di belakang brand orang lain. Saya harus maju ke depan dengan nama saya sendiri.
Produk Ditolak, Mental Bertindak!
Kalimat tersebut mungkin terdengar klise dalam dunia percintaan. Namun, ini bukan soal hal itu tapi tentang sebuah brand baru. Produk JETE waktu itu hanya beberapa jenis, salah satunya casing handphone. Tapi tantangannya terasa besar. Pasar tidak langsung menyambut dengan baik, apalagi ramah. Ada toko yang ragu, ada yang menolak, ada yang bahkan tidak memberi kesempatan menjelaskan.
Apa itu JETE? Barangnya bagus nggak? Merek apa ini? ………
Itu hanya sebagian kecil dari pertanyaan yang sering dilontarkan awal saya menawarkan produk ‘bikinan’ saya sendiri. Tapi, di situlah mental saya benar-benar diuji dan harus bertindak. Bukan soal gengsi, tapi soal kepercayaan diri, apakah saya cukup yakin dengan keputusan ini ketika belum ada orang lain yang yakin?
Pelan-pelan saya mengerti bahwa membangun brand bukan tentang desain logo atau kemasan yang terlihat meyakinkan. Brand adalah janji yang kita pegang setiap hari, bahkan saat belum ada yang memperhatikan. Masa awal JETE ada, mengajarkan saya satu hal yang tidak pernah saya lupakan: brand tidak tumbuh karena cepat dikenal, melainkan karena terus dijaga saat semua orang belum banyak mengenal.
Saya tidak pernah tahu dengan pasti apakah keputusan itu akan berhasil. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian. Tapi saya tahu satu hal, kalau waktu itu saya memilih aman dan tetap menjual produk orang lain saja, mungkin perjalanan ini sudah berhenti sejak lama, tidak akan ada JETE sampai seperti sekarang, titik!
Kadang keberanian bukan soal siap, tapi soal jujur pada diri sendiri bahwa kita ingin melangkah lebih jauh!
Perjalanan JETE tidak selalu berjalan mulus, kamu bisa simak di cerita saya berikutnya: Setelah Brand Tercipta, Apa yang Harus Saya Lakukan?

