Kalau ada yang mengatakan bahwa dunia saat ini berada dalam genggaman anak muda, barangkali ada benarnya. Saya melihat sendiri bagaimana generasi muda mulai menguasai berbagai lini bisnis dengan kecemerlangan yang sulit diabaikan. Salah satu yang membuat saya terinspirasi adalah kisah dari profil Aruna Harsa.
Kehadiran generasi muda ini semakin menonjol sejak industri 4.0 berkembang pesat. Aruna Harsa adalah pengusaha muda yang berhasil membangun Dekoruma, e-commerce besar yang mengubah cara kita melihat dan merancang interior rumah. Berkat kontribusinya, Aruna masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia pada tahun 2019. Berikut fakta menarik Aruna Harsa.
Profil Aruna Harsa

Ketika pertama kali mendengar nama Aruna Harsa, saya langsung penasaran. Bagaimana mungkin sosok yang begitu muda bisa membangun salah satu perusahaan home & living terbesar di Indonesia? Ternyata, jawabannya sederhana namun mendalam. ia tidak pernah berhenti belajar, mencoba, dan mengasah diri.
Aruna adalah pengusaha muda yang menorehkan namanya di industri digital Indonesia lewat Dekoruma. Di balik tampilan website yang estetik dan katalog furnitur yang rapi, ada perjalanan panjang yang penuh eksperimen, kegagalan, ambisi, dan visi kuat untuk memberikan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat. Kesuksesan yang membuatnya masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia.
Terbiasa Mencari Peluang Sejak Kuliah
Aruna pernah bercerita bahwa kebiasaan mencari peluang sudah ia miliki sejak masih kuliah di Singapura. Saat teman-temannya fokus pada akademik, Aruna justru mulai merintis startup pertamanya. “Yang pertama, saya membuat sebuah sistem seperti Shopify for Native, sebuah sistem e-commerce untuk Android dan iOS. Tetapi sayang tidak berjalan baik,” kenangnya.
Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran, lalu melihat hasilnya tidak sesuai harapan. Namun Aruna tidak berhenti. Ia melanjutkan bisnis baru, yaitu beauty service marketplace. Bersama teman-temannya, ia membangun platform pemesanan layanan kecantikan sekaligus berjualan produk beauty impor dari Singapura ke Indonesia.
Berkat bisnis impor itu, Aruna sering menghadapi urusan perizinan. Momen inilah yang mempertemukannya dengan Dimas, kakak kelas dari NTU yang kemudian menjadi rekannya membangun Dekoruma. Dimas menekankan pentingnya membangun bisnis vertikal, bisnis dengan fokus pada kategori yang sangat spesifik. Keputusan itulah yang kelak menjadi fondasi Dekoruma.
Baca Juga: Profil Haryanto Tanjo, Milenial yang Mengubah Nasib Ribuan UMKM dengan Moka!

Riwayat Pendidikan dan Jejak Karier
Jika Anda membuka LinkedIn Aruna, Anda akan menemukan bahwa ia menempuh pendidikan di Nanyang Technological University (NTU) Singapore, jurusan matematika dan ekonomi. Kombinasi yang menarik antara logis, analitis, tetapi juga punya ruang besar untuk kreativitas bisnis. Sambil kuliah, Aruna tetap mencoba membangun bisnis, seperti
- Dashell (2012): Platform alternatif Shopify untuk iOS dan Android. Ditutup 2014.
- Vanitee (2014): Platform pemesanan layanan kecantikan. Aruna bertanggung jawab sebagai Lead Product, Tech & Design.
Vanitee berkembang cukup baik hingga mengumpulkan pendanaan lebih dari USD 5 juta (Series A). Platform tersebut tumbuh, klien bertambah, dan secara kasat mata jalan karier Aruna terlihat stabil. Namun, Aruna kemudian memutuskan hengkang dan memulai perjalanan barunya yang kelak mengubah industri home & living di Indonesia.
Membangun Dekoruma
Dekoruma lahir pada 2015, didirikan oleh Aruna dan Dimas. Keduanya melihat celah besar di sektor home & living Indonesia, pasar besar yang belum banyak digarap secara digital. Selain itu, baik Aruna maupun Dimas berasal dari keluarga yang berhubungan dengan dunia properti, kontraktor, furniture, dan interior.
Perlahan namun pasti, Dekoruma berkembang. bukan hanya sebagai toko furniture daring, tetapi sebagai ekosistem yang hidup dan terus bertambah besar setiap tahunnya. Pada 2019, mereka meluncurkan unit bisnis penjualan properti dan mendapatkan respons positif. Pendanaan mengalir dari berbagai investor besar seperti GDN dan AddVentures by SCG. Dekoruma kini memiliki:
- Lebih dari 1 juta pelanggan
- 100 ribu produk furniture
- Lebih dari 3.000 proyek desain interior
- 100+ partner developer dan bank
- Serta ribuan desainer yang memakai Dekoruma Design Tools.
Baca Juga: Profil Meg Whitman: Dari eBay, HP, hingga Peran sebagai Duta Besar

Terus Berekspansi ke Berbagai Kota Besar
Perkembangan Dekoruma tidak terjadi dalam semalam. Dimas menjelaskan bahwa Dekoruma kini terbagi menjadi dua divisi besar, yaitu divisi retail yang berhubungan dengan marketplace furniture dan dekorasi dan divisi service yang menyediakan layanan desain interior. Mereka menggandeng 400+ merchant, 150+ desainer interior, dan menangani berbagai kategori, dari furnitur hingga flooring.
Berdasarkan kondisi pasar di Jabodetabek saja yang mencapai 80.000 permintaan per tahun, potensi pertumbuhan Dekoruma masih sangat besar. Dekoruma Experience Center di Kebayoran Baru kini menjadi titik temu antara konsumen dan desainer, tempat di mana ide-ide visual berubah jadi ruang nyata.
Melihat perkembangan itu, saya tidak heran jika Aruna dan timnya menargetkan ekspansi ke sejumlah kota besar dalam 2–3 tahun ke depan. Mereka menargetkan ekspansi ke banyak kota besar seperti Bandung, Surabaya, Makassar, dan Banjarmasin. Bukan hanya rumah, tapi juga kantor, hotel, sekolah, semua ruang yang butuh kenyamanan dan estetika.
Masuk Forbes 30 Under 30 Tahun 2019
Pada usia 26 tahun, Aruna berhasil masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia. Ia diakui sebagai co-founder sekaligus CTO Dekoruma yang mengembangkan ekosistem home & living paling lengkap di Indonesia. Dekoruma bukan hanya marketplace furniture. Ia adalah solusi menyeluruh.
Aruna berhasil menghubungkan pelanggan dengan desainer, vendor, kontraktor, dan produsen. Semua dilakukan dengan transparansi harga dan teknologi yang memudahkan. Saya selalu percaya bahwa seseorang tidak masuk Forbes hanya karena keberuntungan. Butuh visi, ketekunan, dan keberanian. Aruna berhasil membuktikan semua itu.
Baca Juga: Perjalanan Martin Reyhan Suryohusodo: Kisah Anak Surabaya yang Sukses Masuk Forbes 30 Under 30 Asia

Penutup
Bagi saya, profil Aruna Harsa adalah bukti bahwa perjalanan besar sering dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh keyakinan. Mulai dari mencoba berbagai startup, gagal, bangkit, belajar lagi, hingga akhirnya menemukan celah besar yang mengubah hidupnya. Aruna memberi kita pelajaran penting.
Kesuksesan bukan soal siapa yang paling cepat memulai, tetapi siapa yang paling konsisten memperbaiki diri di setiap proses. Dan untuk Anda yang masih merintis sesuatu, apa pun bentuknya, kisah Aruna bisa menjadi pengingat bahwa jalan besar kadang bermula dari rasa penasaran dan keberanian mengambil risiko kecil.

