Cara Memimpin Tim dengan Kepercayaan: Refleksi dari JETE RUN 2026

by Jhonny Thio Doran  - September 28, 2026

Cara memimpin tim bukan hanya tentang memberikan arahan, membagi tugas, lalu memastikan semuanya selesai. Semakin besar tim yang kita bangun, semakin penting bagi seorang leader untuk memahami kapan harus memberikan kepercayaan dan kapan perlu hadir secara langsung. Hal ini kembali saya rasakan ketika terlibat dalam penyelenggaraan JETE RUN 2026.

Dalam event sebesar JETE RUN, tentu saya tidak mungkin mengerjakan dan mengawasi semuanya sendiri. Ada banyak orang dengan tanggung jawab masing-masing yang saya percaya untuk menjalankan rencana yang sudah kami susun bersama. Sesekali, kita perlu turun. Melihat, mendengar, dan merasakan langsung. Sebab, ada hal-hal yang tidak akan terlihat hanya dari angka, laporan, atau ruang meeting.

Cara Memimpin Tim

Cara Memimpin Tim (2)

Event JETE RUN 20206 beberapa waktu lalu memberikan banyak insight bagi saya dalam memimpin tim menjadi lebih baik untuk pertumbuhan bersama. Setidaknya ada tujuh poin yang saya catat di antaranya:

1. Percaya kepada Tim Bukan Berarti Melepas Semuanya

Tim membutuhkan ruang untuk menjalankan tanggung jawabnya. Ketika kita sudah melakukan delegasi tugas, kita juga perlu memberikan kesempatan tim untuk mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan belajar dari proses tersebut. Di JETE RUN kemarin, banyak bagian event berjalan secara bersamaan dan masing-masing memiliki tim yang bertanggung jawab terhadap eksekusinya.

Namun, memberikan kepercayaan bukan berarti leader hanya menunggu hasil akhirnya. Kita tetap perlu mengetahui perkembangannya, memahami tantangan yang sedang dihadapi, dan memastikan semuanya bergerak menuju tujuan yang sama. Tim perlu memiliki ownership, tetapi mereka juga perlu tahu bahwa ketika membutuhkan dukungan, leader tetap ada bersama mereka.

Baca juga: Sandwich Leadership: Seni Menjaga Target Tetap Jalan & Tim Tetap Bertumbuh

2. Semakin Tinggi Posisi, Kita Tetap Punya Blind Spot

Semakin tinggi posisi kita dalam sebuah organisasi, biasanya semakin banyak informasi yang diterima melalui laporan, dashboard, angka, dan meeting. Semua itu penting bagi saya untuk memahami perkembangan bisnis dan mengambil keputusan. Namun, dari posisi paling atas sekalipun, kita tetap memiliki blind spot. Ada hal-hal yang tidak selalu terlihat dari laporan dan angka.

Itulah salah satu alasan saya merasa penting untuk sesekali berada langsung di lapangan. Di JETE RUN 2026, saya dapat melihat bagaimana sebuah rencana benar-benar dieksekusi, mendengar apa yang dialami tim, dan merasakan bagaimana event tersebut diterima oleh peserta. Data membantu kita memahami apa yang terjadi, tetapi melihat langsung sering kali memberikan konteks mengenai bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi.

3. Turun ke Lapangan Bukan Berarti Mengambil Alih Pekerjaan Tim

Turun langsung juga bukan berarti saya ingin mengambil alih pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada tim. Menurut saya, ada perbedaan besar antara seorang leader yang hadir untuk memahami kondisi dengan micromanagement. Kalau semua detail harus kita atur dan setiap keputusan harus menunggu persetujuan leader, tim justru akan sulit berkembang.

Karena itu, ketika berada di lapangan, saya lebih memilih melihat apa yang menjadi hambatan dan mendengarkan apa yang dibutuhkan tim. Kalau ada sesuatu yang memang membutuhkan peran atau keputusan saya, saya akan membantu. Namun, selama tim mampu menjalankan tanggung jawabnya, berikan mereka ruang.

4. Jangan Hanya Memastikan Tugas Selesai, Pastikan Tujuan Akhir Tercapai

Cara Memimpin Tim - Pastikan Tujuan Akhir Tercapai

Ada satu pertanyaan yang menurut saya penting ketika melihat langsung pelaksanaan JETE RUN 2026: apakah yang kita rencanakan benar-benar terjadi? Lalu, pertanyaan berikutnya adalah apakah outcome yang kita inginkan benar-benar dirasakan? Sebab, pekerjaan yang selesai belum tentu berarti tujuan akhirnya sudah tercapai.

Prinsip yang sama berlaku ketika kita mengelola tim dalam bisnis. Campaign marketing bisa selesai dibuat, tetapi apakah memberikan dampak? Customer service mungkin sudah menjawab keluhan, tetapi apakah masalah customer benar-benar terselesaikan? Memimpin bukan hanya memastikan output selesai, tetapi memastikan pekerjaan tersebut menghasilkan outcome yang sesuai dengan tujuan.

Baca juga: Gen Z Leadership: Cara Menghadapi Generasi Baru di Dunia Kerja

5. Kapan Seorang Leader Perlu Turun Tangan

Menurut saya, seorang leader tidak harus selalu berada di lapangan. Kalau semua masalah membutuhkan kehadiran kita, justru kita perlu melihat kembali apakah sistem dan tim yang dibangun sudah cukup mandiri. Percaya kepada tim berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.

Namun, ada situasi ketika kehadiran leader memang dibutuhkan. Misalnya, ketika ada keputusan penting yang membutuhkan kewenangan lebih tinggi, tujuan utama mulai berisiko tidak tercapai, atau ada kondisi yang sulit dipahami hanya melalui laporan. Jadi, saya biasanya tidak hanya bertanya, “Apakah saya perlu turun tangan?”, tetapi juga, “Apakah kehadiran saya saat ini memberikan manfaat bagi tim dan tujuan yang ingin dicapai?”

6. Lihat, Dengar, Rasakan, dan Dukung

Pada event tahunan yang juga memperoleh rekor MURI tersebut, saya kembali belajar empat hal sederhana: lihat, dengar, rasakan, dan dukung. Sesekali lihat sendiri bagaimana rencana dijalankan. Dengarkan orang-orang yang mengerjakannya dan mereka yang menerima hasilnya. Kemudian, rasakan pengalaman tersebut. Sebab, tidak semua hal dalam bisnis dapat diterjemahkan menjadi angka

Setelah memahami kondisinya, barulah kita memberikan dukungan. Jika ada hambatan yang membutuhkan peran leader, bantu tim mencari jalan keluarnya. Jika ada keputusan yang menjadi tanggung jawab kita, ambil keputusan tersebut. Namun, ketika semuanya sudah kembali berjalan, berikan lagi ruang kepada tim. Leader tidak harus menjadi orang yang menyelesaikan setiap masalah.

7. Leadership Adalah Tahu Kapan Hadir dan Kapan Memberikan Ruang

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar dalam cara memimpin tim adalah menemukan keseimbangan ini. Terlalu jauh dari tim bisa membuat kita kehilangan pemahaman terhadap kondisi sebenarnya. Sebaliknya, terlalu terlibat dalam setiap detail dapat membuat tim kehilangan ruang untuk berkembang dan akhirnya selalu bergantung kepada leader.

Karena itu, saya belajar untuk melihat situasinya. Ada saatnya kita perlu hadir lebih dekat, mendengarkan, dan membantu tim melewati hambatan. Namun, ada juga saatnya kita harus mundur dan percaya bahwa mereka mampu menyelesaikannya sendiri. Ketika orang-orang di dalam tim semakin berani mengambil tanggung jawab dan keputusan, bagi saya itu juga merupakan bagian dari keberhasilan leadership.

Baca juga: 7 Pelajaran Berharga tentang Cara Mengelola Konflik dalam Tim

Refleksi

Cara Memimpin Tim - Refleksi

Pada akhirnya, bagi saya cara memimpin tim bukan tentang memilih antara turun tangan atau percaya kepada tim. Keduanya dibutuhkan pada waktu yang berbeda. Seorang leader perlu cukup dekat untuk memahami apa yang sedang terjadi, tetapi juga cukup percaya untuk memberikan ruang kepada orang lain agar berkembang.

Karena leadership bukan tentang menjadi orang yang mengerjakan semuanya, melainkan mengetahui kapan harus hadir, kapan harus mendukung, dan kapan harus memberikan kepercayaan kepada tim untuk melangkah sendiri.

You may be interested in

^