7 Cara Mengatasi Stres Kerja bagi Seorang Pemimpin Versi Saya

Cara Mengatasi Stres - JTD

Ada pertanyaan yang menggelitik saya yakni, pernahkah saya merasa stres karena pekerjaan? Jawabannya, sebagai manusia pasti kita pernah merasakan tekanan itu! Manajemen diri adalah poin penting mengatasi itu semua. Mari kita bahas bersama di tulisan kali ini.

Ada masa ketika saya berpikir bahwa menjadi pemimpin berarti harus selalu terlihat tenang, selalu punya jawaban, dan tidak boleh menunjukkan rasa lelah. Setiap hari dipenuhi keputusan, target, masalah tim, urusan operasional, sampai hal-hal tak terduga yang datang tanpa kita tahu.

Di luar, orang melihat hasil. Tapi di balik itu, ada banyak malam yang diisi pikiran yang terus berjalan di dalam kepala. Semakin besar perusahaan, saya justru semakin sadar satu hal stres kerja bukan tanda bahwa kita lemah. Justru itu tanda bahwa kita sedang memikul tanggung jawab yang besar.

Cara Mengatasi Stres Kerja Versi Saya

sc: Instagram Pribadi

Hal yang membedakan seorang pemimpin bukan apakah dia pernah stres atau tidak, tetapi bagaimana dia mengelola dirinya saat tekanan datang. Dari perjalanan saya membangun bisnis, ada tujuh hal yang paling membantu saya tetap berkepala dingin dalam menghadapi tekanan, yakni:

1. Mulailah untuk Menerima Kenyataan Jika Tekanan Itu Ada

Dulu, saya sering memaksa diri untuk terus kuat. Dalam benak saya, kalau saya mengakui sedang tertekan, berarti saya kalah. Ternyata bukan begitu yang terjadi. Lambat laun, mulai sadar dan jujur pada diri sendiri, itu membuat saya merasa lebih lega. Dari situ, belajar menerima bahwa tekanan adalah bagian dari proses. Begitu kita berhenti menyangkal, energi kita tidak habis untuk melawan keadaan. Fokus kita jadi pindah ke solusi atas tekanan itu.

Baca juga: 7 Cara Memotivasi Diri Sendiri Agar Kembali Porduktif

2. Jangan Bawa Semua Masalah ke Kepala Anda

Salah satu hal yang bikin pikiran penuh adalah kebiasaan ingin menyelesaikan semuanya. Saya pun pernah ada di fase itu. Bangun tidur sudah memikirkan banyak hal, malam tidur pun pikiran masih berputar. Sekarang, saat ada masalah datang, mulailah saya untuk memecahnya satu per satu, mana yang penting untuk diselesaikan dahulu, dan mana yang bisa ditunda, dan mana yang bisa diserahkan ke tim. Ini akan membuat kepala jauh lebih ringan.

3. Belajar Percaya Pada Tim Itu Perlu

Di awal membangun bisnis, saya terbiasa turun tangan langsung. Rasanya semua harus saya cek sendiri supaya hasilnya sesuai. Apakah itu worth it? Memang, ada namun di sisi lain justru semakin melelahkan. Dari hal tersebut, saya akhirnya belajar bahwa membangun perusahaan bukan soal menjadi orang paling sibuk mengatur, tapi membangun sistem dan orang-orang yang bisa jalan bersama. Saat kita punya tim yang bisa dipercaya, beban mental jauh berkurang. Kita pun bisa fokus pada hal-hal besar, bukan habis energi di hal kecil.

4. Kondisi Tubuh Harus Dijaga

Saking banyaknya masalah, terkadang seseorang mengabaikan kondisi tubuh. Bagi saya, kondisi tubuh sangat mempengaruhi cara kita menghadapi masalah. Saat badan capek, emosi jadi lebih pendek, dan keputusan yang diambil pun lebih gampang salah. Banyak keputusan penting justru terasa lebih jelas setelah tubuh bergerak. Oleh karena itu, saya suka olahraga terutama lari agar tubuh fit dan pikiran tetap jernih.

Baca juga: Profil Jhonny Thio Doran: CEO JETE yang Jadikan Lari Sebagai Misi Besar

5. Berilah Ruang Pada Diri Anda Sendiri

Sebagai pemimpin, kita sering sibuk merespons semua hal sampai lupa memberi waktu benar-benar berpikir. Padahal, pikiran juga butuh jeda, bukan? Biasakanlah Anda untuk memiliki waktu untuk diam sejenak, meski sebentar. Momen ini bisa dijadikan untuk menenangkan dan merefleksikan diri. Tanyakan juga pada diri Anda, apakah sedang bereaksi karena emosi, atau benar-benar berpikir jernih. Kerap kali, jawaban terbaik justru muncul saat kita rehat sejenak.

6. Punya Tempat untuk Bercerita

Pernahkah Anda berpikir, atau mengalami sendiri bahwa seorang pemimpin harus memikul semua bebannya sendiri? Jika bercerita pada orang lain, anggapannya kita lemah. Sebenarnya, itu adalah kesalahan. Justru memendam masalah terlalu lama bisa bikin beban bertambah berat. Maka, penting bagi Anda untuk punya tempat bercerita. Bisa pasangan, sahabat, mentor, tim, dan orang terdekat yang kita percaya. Dengan bercerita, pikiran sudah terasa jauh lebih lega.

7. Kembali ke Alasan Awal, Mengapa Saya Memulai

Terakhir, apa yang saya lakukan saat berada dalam tekanan tinggi adalah dengan mengingat kembali, kenapa saya memulai semua ini? Bukan tentang target, omzet, dan angka-angka rumit. Tapi tentang mimpi besar membangun sesuatu yang bermanfaat, membuka lapangan kerja, menciptakan peluang, dan memberi dampak untuk banyak orang. Saat kita kembali ke tujuan awal itu, kita sadar jika itu adalah bagian dari proses.

Saya jadi ingat bahwa lelah itu wajar, tapi berhenti bukan pilihan.

Baca juga: Teori Johari Window: Kunci untuk Mengenal Diri Lebih Dalam

Penutup

sc: Generate by GPT Image Generator

Sebagai penutup, ada satu poin penting bagi saya pribadi yakni stres kerja tidak selalu harus dilawan. Kadang, yang kita butuhkan justru cara yang lebih sehat untuk menjalaninya. Karena pada akhirnya, perusahaan hanya bisa tumbuh sejauh pemimpinnya mampu tetap tenang, jernih, dan terus melangkah.

Menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu kuat di luar, tapi tahu kapan harus menjaga diri di dalam.